Selasa, 22 Mei 2012
Sekolah Kehidupan
Bagian 1: Perjumpaan dengan Sekolah Kehidupan
Victoria Park di Hong Kong pada Minggu sore penuh dengan
canda dan ketawa namun Teki seorang BMI (Buruh Migran Indonesia) muda
duduk di sebuah sudut Victoria Park dengan wajah murung. Hatinya sedih
karena baru saja mendapat sms dari sahabat baiknya di kampung yang baru
saja di wisuda jadi sarjana. “Dulu aku yang mengajari dia bahkan dia
nyontek pun dari aku, sekarang dia sarjana sedang aku hanya berhenti di
ijazah SMP...”. Berita gembira yang seharus disambut gembira malah
membuat dia sedih. Ketika Teki masih murung, tiba-tiba muncul seseorang
dan menyapa dia dengan ramah:”Kesedihanmu tidak akan membawamu menjadi
sarjana..” Kalimat ini sangat mengejutkan dan Teki merasa malu bahwa
seseorang bisa membaca isi hatinya. Orang ini kemudian
melanjutkan:”Namaku Tie, aku akan menceritakan padamu sebuah sekolah
yang lebih berharga dari sekedar sekolah formal, namanya Sekolah
Kehidupan, maukah engkau mendengarnya?. Teki yang sedang gundah dengan
segera menganggukkan kepala dan sekarang mereka duduk bersama di bangku
taman.
“Sekolah Kehidupan mirip dengan sekolah formal, ada jenjang-jenjangnya...” Tie memulai pembicaraan.
“Kalau sekolah formal mengenal jenjang SD atau sekolah
Dasar maka Sekolah Kehidupan juga dimulai dengan SD yang berarti Sadar
Diri..” Teki mulai tertarik karena ada kata-kata baru yang sebelumnya
tak ia ketahui.
Tie melanjutkan:”Mereka yang lulus SD dari Sekolah
Kehidupan memiliki kesadaran baru, mereka mendapatkan inspirasi dan
kemudian menjadi sadar diri bahwa bahwa ada hal-hal yang perlu dan
penting untuk masa depan mereka tapi sekarang mereka tidak tahu dan
merasa belum mampu melakukannya. Sadar diri yang berikutnya adalah
sadar bahwa mereka bisa belajar untuk mengatasi ketidak tahuan dan
ketidak mampuan itu. Sadar diri tidak berakhir hanya dengan sadar diri
bahwa tidak tahu dan tidak bisa tapi terus beranjak ke sadar diri bahwa
mereka bisa belajar....” Tie menjelaskan sambil tersenyum, wah sekarang
mata Teki makin lebar, rasa ingin tahu makin mebggelembung dan ia
bertanya:”Kalau begitu apa itu SMP Sekolah Kehidupan...?
Ah, kau makin tertarik bukan..? Tie tersenyum lagi. Ia
melanjutkan:”SMP Sekolah Kehidupan berarti Selalu Menjadi Pembelajar.
Kehidupan di abad 21 menuntut setiap orang yang ingin sukses untuk jadi
pembelajar sejati sepanjang hayat. Pembelajar sejati memiliki cita-cita
atau impian masa depan yang jelas dan mereka bisa belajar dari siapa
saja, dari apa saja, dimanapun dan kapanpun. Pembelajar sejati bisa
belajar dari majikan, dari teman majikan, dari koran, majalah juga TV.
Ia tidak sungkan belajar dari sesama kawan bahkan dengan mengamati
kesibukan jual beli di super market ia juga bisa belajar. Dengan sengaja
ia mengeksplorasi kehidupan sebanyak mungkin untuk belajar. Pengalaman
dan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan apapun dan kapanpun terjadinya
bisa ia jadikan sebagai sumber belajar. Jadi ijazah SMP Sekolah
Kehidupan bukan berbentuk selembar kertas tapi ratusan atau ribuan
kertas yang berisi catatan-catatan pembelajaran yang pembelajar sejati
dapatkan dalam kehidupan dan tersimpan dalam hati...”
Tie kemudian bertanya:”Teki, apakah ijazah SMP Sekolah
Kehidupan sudah kau miliki...?” Teki hanya tertunduk malu ia menjawab
dengan lirih:”Bertahun-tahun aku bekerja dengan mengeluh, kenapa aku
tidak lahir di keluarga yang berbeda paling tidak lahir di hari yang
lebih baik. Aku telah menghabiskan banyak waktu dengan menyesali diri
dan aku telah kehilangan waktu untuk belajar...” Tie menyentuh bahu Teki
dengan lembut dan berkata:”Belum terlambat Teki, mari kuceritakan
jenjang selanjutnya..” (bersambung)
By. Pak Antonius Tanan
By. Pak Antonius Tanan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar