Jumat, 26 Oktober 2012

SEKOLAH KEHIDUPAN Bagian 1

Selasa, 22 Mei 2012



Sekolah Kehidupan
Bagian 1: Perjumpaan dengan Sekolah Kehidupan
Victoria Park di Hong Kong pada Minggu sore penuh dengan canda dan ketawa namun Teki seorang BMI (Buruh Migran Indonesia) muda duduk di sebuah sudut Victoria Park dengan wajah murung. Hatinya sedih karena baru saja mendapat sms dari sahabat baiknya di kampung yang baru saja di wisuda jadi sarjana. “Dulu aku yang mengajari dia bahkan dia nyontek pun dari aku, sekarang dia sarjana sedang aku hanya berhenti di ijazah SMP...”. Berita gembira yang seharus disambut gembira malah membuat dia sedih. Ketika Teki masih murung, tiba-tiba muncul seseorang dan menyapa dia dengan ramah:”Kesedihanmu tidak akan membawamu menjadi sarjana..” Kalimat ini sangat mengejutkan dan Teki merasa malu bahwa seseorang bisa membaca isi hatinya. Orang ini kemudian melanjutkan:”Namaku Tie, aku akan menceritakan padamu sebuah sekolah yang lebih berharga dari sekedar sekolah formal, namanya Sekolah Kehidupan, maukah engkau mendengarnya?. Teki yang sedang gundah dengan segera menganggukkan kepala dan sekarang mereka duduk bersama di bangku taman.
“Sekolah Kehidupan mirip dengan sekolah formal, ada jenjang-jenjangnya...” Tie memulai pembicaraan.
“Kalau sekolah formal mengenal jenjang SD atau sekolah Dasar maka Sekolah Kehidupan juga dimulai dengan SD yang berarti Sadar Diri..” Teki mulai tertarik karena ada kata-kata baru yang sebelumnya tak ia ketahui.
Tie melanjutkan:”Mereka yang lulus SD dari Sekolah Kehidupan memiliki kesadaran baru, mereka mendapatkan inspirasi dan kemudian menjadi sadar diri bahwa bahwa ada hal-hal yang perlu dan penting untuk masa depan mereka tapi sekarang mereka tidak tahu dan merasa belum mampu melakukannya.  Sadar diri yang berikutnya adalah sadar bahwa mereka bisa belajar untuk mengatasi ketidak tahuan dan ketidak mampuan itu. Sadar diri tidak berakhir hanya dengan sadar diri bahwa tidak tahu dan tidak bisa tapi terus beranjak ke sadar diri bahwa mereka bisa belajar....” Tie menjelaskan sambil tersenyum, wah sekarang mata Teki makin lebar, rasa ingin tahu makin mebggelembung dan ia bertanya:”Kalau begitu apa itu SMP Sekolah Kehidupan...?
Ah, kau makin tertarik bukan..? Tie tersenyum lagi. Ia melanjutkan:”SMP Sekolah Kehidupan berarti Selalu Menjadi Pembelajar. Kehidupan di abad 21 menuntut setiap orang yang ingin sukses untuk jadi pembelajar sejati sepanjang hayat. Pembelajar sejati memiliki cita-cita atau impian masa depan yang jelas dan mereka bisa belajar dari siapa saja, dari apa saja, dimanapun dan kapanpun. Pembelajar sejati bisa belajar dari majikan, dari teman majikan, dari koran, majalah juga TV. Ia tidak sungkan belajar dari sesama kawan bahkan dengan mengamati kesibukan jual beli di super market ia juga bisa belajar. Dengan sengaja ia mengeksplorasi kehidupan sebanyak  mungkin untuk belajar. Pengalaman dan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan apapun dan kapanpun terjadinya bisa ia jadikan sebagai sumber belajar. Jadi ijazah SMP Sekolah Kehidupan bukan berbentuk selembar kertas tapi ratusan atau ribuan kertas yang berisi catatan-catatan pembelajaran yang pembelajar sejati dapatkan dalam kehidupan dan tersimpan dalam hati...”
Tie kemudian bertanya:”Teki, apakah ijazah SMP Sekolah Kehidupan sudah kau miliki...?” Teki  hanya tertunduk malu ia menjawab dengan lirih:”Bertahun-tahun aku bekerja dengan mengeluh, kenapa aku tidak lahir di keluarga yang berbeda paling tidak lahir di hari yang lebih baik. Aku telah menghabiskan banyak waktu dengan menyesali diri dan aku telah kehilangan waktu untuk belajar...” Tie menyentuh bahu Teki dengan lembut dan berkata:”Belum terlambat Teki, mari kuceritakan jenjang selanjutnya..” (bersambung) 

By. Pak Antonius Tanan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar