Sekolah Kehidupan
Victoria
Park masih ramai di hari Minggu itu, obrolan, canda dan celoteh BMI
masih seru terdengar disana sini. Ada yang berwajah ceria ada yang
berwajah gundah ada juga yang sedang kecewa. Semua ragam ungkapan emosi
ada di Victoria Park setiap hari Minggu. Tiga sahabat Teki, Eti dan Mey
masih bercengkrama menceritakan pengalaman mereka berentrepreneur di
rumah majikan. Bukan berarti berdagang dari rumah majikan tapi
melaksanakan semangat inovasi dan berprestasi di tempat kerja. Mey yang
banyak membaca dan mengumpulkan informasi berbagi inspirasi kepada
teman-temannya:
“Teki, Eti
aku mendapat majalah Gatra yang sudah lama sekali, eh didalamnya ada
kisah tentang 3 entrepreneur perempuan yuk kita baca sama-sama..”
---------------------------------------------------------------------------------------------
Langkah Perempuan di Tiga Zaman
MARTHA
Tilaar di Kebumen, Retno Iswari di Jakarta, Gayatri Rawit di Solo.
Mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Orangtua mereka juga tidak
saling mengenal. Tapi, lihatlah masa lalu mereka yang unik, seakan-akan
ada benang merah yang menarik ketiganya pada satu kata: sukses.
Di masa
kanak-kanak, Martha Tilaar diajari ibunya berjualan gelang jali-jali
yang dibuat sendiri. Retno Iswari menangis malu karena diperintah
berdagang hiasan dinding. Gayatri Rawit senang saja disuruh berjualan
permen di koperasi sekolah dasar.
Memang, bunda ketiga perempuan itu sama-sama memiliki jiwa entrepreneur,
dan mendorong anak-anaknya untuk belajar mencari uang sendiri. Adapun
ayah mereka sama-sama guru pula --kecuali ayah Gayatri seorang wartawan
dan penulis, sementara ibunya seorang guru SD.
Dari
atmosfer kehidupan keluarga yang seperti itulah, sosok Martha Tilaar,
Retno Iswari, dan Gayatri Rawit tumbuh dan menjadi wanita sukses. Mereka
juga sama-sama dibentuk oleh suatu iklim pendidikan yang mengutamakan
kreativitas, kemandirian, dan mendapatkan perhatian penuh dari orangtua.
Ketiga perempuan itu adalah produk dari perpaduan kekuatan intelektual
yang diturunkan ayah-ayah mereka, dengan jiwa kewirausahaan dari para
ibu. Ketiga ibu merekalah yang mendorong para perempuan itu tumbuh
sebagai sosok Kartini-Kartini baru.
Dr. Martha
Tilaar, berkat kerja kerasnya selama 33 tahun, kini menakhodai kapal
besar perusahaan kosmetika Indonesia berlabel ''Sari Ayu Martha Tilaar''
dengan omzet Rp 600 milyar setahun. Pengalaman dan semangat berjualan
gelang jali-jali di masa kanak-kanak, memacunya menjadi istana bisnis
kosmetik dan alat kecantikan nomor 1 di negeri ini.
Dr. Retno
Iswari, ahli kecantikan dan bos perusahaan kosmetika ''Ristra Group'',
meski mengaku belum sebesar Martha Tilaar, memiliki jaringan bisnis yang
tidak kecil di kawasan Asia Tenggara hingga Eropa. Ia mengubah cerita
gadis kecil pemalu di lingkungan feodal yang menjual hiasan dinding di
masa kecil, menjadi bisnis berskala internasional.
Sedangkan
Gayatri, dengan kemandirian seorang penjual permen, kini menduduki salah
satu kursi direktur di bank tertua di Indonesia, Bank BRI.
Kisah
Martha, Retno dan Gayatri bukanlah semacam dongeng Cinderella, yang
mengubah kehidupan seorang gadis yang dizalimi ibu tiri, menjadi putri
yang beruntung karena dicintai pangeran baik hati, dengan pertolongan
Ibu Peri. Melainkan, cerita tentang kerja keras, dan sejarah tentang
keberhasilan para orangtua --khususnya para ibu-- mengantarkan putri
mereka menjadi pendekar-pendekar wanita yang memenangkan persaingan dan
pertarungan di pasar. Para Srikandi dan Kartini baru itu mengarungi
waktu yang panjang, sejak masih kanak-kanak, untuk mendapatkan
singgasananya di istana sukses.
Apakah
suatu kebetulan belaka, Martha Tilaar sudah belajar berbisnis gelang
jali-jali dan kerajinan tangan lainnya saat masih kanak-kanak? Apakah
tak ada artinya, ketika Retno Iswari mulai memperdagangkan kerajinan
buatan tangannya di usia dini? Ataukah sekadar bertepatan kalau Iswari
mulai belajar menjahit pakaian anak-anak dan berdagang kain ketika masih
remaja di Solo? Niscaya tidaklah demikian. Yang mereka lakukan adalah
suatu latihan dan praktek yang penuh kedisiplinan, sebuah langkah awal
bagi kemandirian, keuletan, dan penjiwaan terhadap kehidupan dunia
usaha. Dan, tak dimungkiri, semua itu mereka jalani berkat dorongan dan
ketekunan sang ibu, yang dengan tekun dan sabar mendidik sang anak agar
tidak menjadi bocah perempuan cengeng yang hanya bisa menadahkan tangan.
Martha
Tilaar bukanlah seorang yang cerdas, karena sejak kecil pada tahun
1930-an, sering sakit-sakitan. Dokternya pun memperkirakan, ia akan
tumbuh sebagai anak yang slow learner. Tapi, ternyata ibunda
Martha punya trik khusus untuk menjaga talentanya sejak dini. Ibunya
berusaha mengejar keterlambatan dengan cara mengajarinya berbagai
keterampilan tangan dan aktivitas kreatif. Selain mendapatkan perawatan
terbaik untuk seorang anak, di masa pertumbuhan itu, daya kreatif Martha
dirangsang dengan diajari bekerja dan melakukan sesuatu yang tidak
mengandalkan kecerdasan otak atau IQ.
Sejak
kecil, Martha Tilaar sudah diajak untuk bisa membuat kerajinan tangan,
dan kemudian menjualnya. Kerajinan pertama yang ia kuasai adalah membuat
kalung dan gelang dari jali-jali dan soko telik. Karena ibunya seorang
pedagang, di usia sekolah dasar, Martha kecil diajaknya berjualan.
Gelang dengan satu lingkaran, harganya lebih murah, dua lingkaran agak
mahal, dan yang paling mahal adalah gelang dengan tiga lingkaran. ''Nah,
tindakan ibu itu merupakan bentuk pendidikan untuk membuat saya
kreatif, meskipun saya bukan anak yang pinter. Sejak awal, saya mulai
belajar mengambil keputusan dan menentukan harga dari setiap produk,''
Martha menyimpulkan arti tindakan ibunya.
Sosok ibu
juga sangat penting bagi kehidupan Retno Iswari yang, setelah menikah
dengan Suharto Tranggono --mantan Kolonel dan dokter Angkatan Udara--
menambah Tranggono di belakang namanya. Menurut Retno, ibunya adalah
seorang istri yang sangat trampil dan berperan sangat penting dalam
perkembangan kepribadiannya sebagai seorang pengusaha.
Di zaman
Belanda, istri-istri para guru mendapat kursus kerajinan tangan. Ibunya
mengajarkan keterampilan yang sama kepada Retno. Kerajinan itu di
antaranya hiasan dinding berbentuk baki, yang pinggirannya dihiasi
berbagai aksesori. Jadi, sejak kecil ia sudah diajari membuat kerajinan
tangan untuk kemudian dijual. ''Itulah pendidikan kreatif yang saya
terima dari ibu, yang membuat saya cenderung menjadi seorang entrepreneur,'' dokter spesialis kulit dan kelamin lulusan UI, 1968, itu mengenang.
Gayatri
pun, sejak SD, sudah diajari dan didorong oleh ibunya untuk berdagang
kecil-kecilan. Mulai dari jualan permen hingga menjahit pakaian
anak-anak. Rasa percaya dirinya tinggi, karena sang ibu selalu
mendorongnya agar optimistis. Sedangkan pertumbuhan intelektualnya
didukung oleh ayahnya yang wartawan dan penggemar buku. Gayatri Rawit
terbiasa hidup mandiri. Bahkan, saking mandirinya, pada usia remaja ia
sudah terbiasa mencari uang jajan sendiri. Dengan uang hasil menjahit
pakaian anak-anak, ia bisa membantu orangtuanya. Menurut Gayatri,
kreativitas dan kemandirian dalam dirinya terbentuk akibat pengaruh
ibunya yang terus-menerus mendorongnya untuk tidak bergantung, dan
tegar. ''Mungkin ini kreativitas karena terpaksa,'' kata Gayatri sambil
tertawa.
(Sebagian dari tulisan Wiratmadinata dan Jayani yang dimuat sebagai
Suplemen, GATRA, Nomor 23 Beredar Senin 21 April 2003)
--------------------------------------------------------------------------------
“Jangan hanya baca, yuk kunyah dan diskusikan bacaan ini..”Demikian Mey mengajak para sahabatnya berdiskusi.
“Mbak Teki dulu cerita apa kesimpulan yang didapat...?
“Hmmm apa
ya..., aku jadi sedih nih karena ingat anak-anak BMI yang harus berpisah
dengan ibu mereka yang sedang berjuang di negara asing demi masa depan
mereka. Semoga jutaan anak-anak BMI yang terpaksa tumbuh tanpa ibu di
Indonesia dapat memperoleh pendidikan sekolah dan pendidikan dalam rumah
yang baik. Semoga mereka berkesempatan belajar entrepreneurship
ya...... Aku suka sedih lho kalau mengingat ini...”Teki berkata sambil
matanya menatap jauh ke depan.
“Kalau teh Eti bagaimana...?”Sekarang Mey bertanya kepada Eti.
“Kalau aku
melihat bahwa entrepreneurship memang harus dilakukan sedini mungkin,
seawal mungkin. Jadi untuk aku yang sekarang tidak punya anak,
entrepreneurship itu harus aku kerjakan seawal mungkin dan sesering
mungkin. Jangan menunggu pulkam, jangan menunggu kelas Mandiri Sahabatku
berikutnya, dari sekarang dan di Hong Kong harus kita kerjakan. Baik
itu di rumah majikan maupun di Victoria Park..”
“Betul, betul setuju...” serempak Mey dan Teki menjawab.
Mey yang tampak sudah membaca artikel ini terlebih dahulu menyampaikan kesimpulannya juga:
“Aku boleh
ya punya 2 kesimpulan. Yang pertama ibu dari seluruh 3 tokoh perempuan
ini hebat-hebat ya, mereka melatih dengan sengaja anak-anak mereka sejak
dini, mereka bertindak sebagai guru, pelatih dan mentor untuk anak-anak
mereka. Aku salut pada ibu dari bu Martha Tilaar yang bisa menerima
bahwa bu Martha tidak pandai secara akademis walaupun saudara-saudaranya
yang lain pandai-pandai. Setelah itu sang ibu bertindak membantu bu
Martha dengan cara mengasah ketrampilan dan kepandaian berentrepreneur
untuk masa depan bu Martha. Yang kedua aku mau stabilo ya beberapa
kalimat penting dalam cerita ini yaitu yang berhubungan dengan
kreativitas...” Mey mengambil stabilo dan menandai kalimat-kalimat
dibawah ini yang dianggap penting oleh dia, yaitu:
“Nah,
tindakan ibu itu merupakan bentuk pendidikan untuk membuat saya kreatif,
meskipun saya bukan anak yang pinter. Sejak awal, saya mulai belajar
mengambil keputusan dan menentukan harga dari setiap produk,''
(pernyataan ibu Martha Tilaar)
''Itulah pendidikan kreatif yang saya terima dari ibu, yang membuat saya cenderung menjadi seorang entrepreneur,'' (Pernyataan ibu Retno)
(Bersambung)
Pertanyaan untuk Refleksi: Bagaimana caranya melatih
kemandirian dan kreativitas kepada anak-anak sementara anda dan anak
tinggal terpisah...?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar