NOW you can learn to be entrepreneur!
CURY si Hiu Kolam jadi Hiu LAUTAN
Kisah Inspirasi ENTREPRENEURSHIP
|
Antonius Tanan
Bacaan untuk Usia 10 sd 100 tahun
BACAAN UNTUK USIA 10 S/D 100 TAHUN
---------------------------------------------------------------
Bab 4
Hati Entrepreneur
Akhirnya
Cury menjalankan niatnya. Di pagi yang senyap itu, saat semua hiu kolam
masih lelap tertidur, Cury mulai menjalankan aksinya. Hiu kolam remaja
ini tahu kalau hiu-hiu kolam sudah terbiasa tidur nyenyak usai menerima
makanan. Mereka tidak perlu lagi berburu mencari mangsa. Tidur nyenyak
sudah menjadi kebiasaan mereka. Bila mereka bangun, setiap pukul 13.00
WIB sudah pasti ada makanan enak yang dikirim oleh karyawan Pak Harno.
Cury
sudah menetapkan hatinya untuk masuk ke Daerah Penuh Resiko, sebisa
mungkin ia berenang dalam diam, tidak bersuara mendekati jeruji besi.
Seperti yang sudah diduga, Hiu Mentor sudah menunggu di sana. Hiu dewasa
ini kemudian dengan mudah membengkokkan beberapa jeruji besi sehingga
Cury dengan gampang meninggalkan kolam masuk ke dalam lautan luas.
”Lihat
sesungguhnya betapa mudahnya masuk ke dalam lautan luas namun tidak ada
seekor hiu kolam pun yang mencobanya. Rasa takut mereka lebih kuat
dibanding jeruji besi ini,” ujar Hiu Mentor.
Cury
merasa lega, ia telah melewati rasa takut yang ada pada dirinya
sendiri. Begitu ia masuk ke dalam lautan luas tindakan pertama yang ia
lakukan adalah menebarkan matanya seluas mungkin untuk melihat keadaan
lautan yang untuk kedua kali dilihatnya.
Ia
memasang pendengarannya dan mencoba mendengar bunyi-bunyian yang aneh
di bawah lautan. Lalu moncongnya mengendus-endus menciumi bau yang belum
pernah ia rasakan. Ia mengibaskan ekornya, sirip-siripnya bergerak
perlahan berusaha merasakan kelembutan taman laut dan juga kerasnya
karang laut. “Ha...ternyata berada di laut luas sungguh mengasyikkan,
aku tidak menyesal...!” serunya dalam hati.
Hiu
Mentor membiarkan Cury menikmati alam lautan luas sepuasnya. Ini memang
pengalaman baru bagi hiu remaja itu. Cury menyelam dan menjelajah sudut
demi sudut lautan lepas. Hiu Mentor mengikuti Cury dengan perlahan.
Mahluk-mahluk laut yang lain menyingkir dan memberikan hormat pada Hiu
Mentor, ia memang hiu yang sangat dihormati.
Setelah
beberapa jam menyelam dan bercengkerama dengan mahluk-mahluk lautan
lepas, Cury sadar kalau dirinya harus segera kembali ke kolam. Jika
tidak, ayah dan para tetua hiu kolam akan menghukumnya. Diantar Hiu
Mentor, ia masuk kembali ke kolam melalui jeruji besi. “Ini adalah hari
yang paling membahagiakan dalam hidupku. Aku menemukan seekor hiu
perkasa yang bisa membawaku ke dunia baru yang semula hanya ada dalam
impianku dan para hiu lainnya yang ada di kolam,” kata Cury.
Hiu
Mentor memandang Cury dengan bangga. Katanya, ”Hari ini, juga merupakan
hari bahagia untukku. Aku gembira karena seekor hiu kolam yang masih
muda telah memutuskan untuk kembali menjadi hiu lautan. Esok, di jam yang sama aku akan menunggumu di sini.”
Di
balik pintu kolam dan lautan, di batas Garis Tidak Nyaman, Cute sudah
menunggu dengan cemas. “Cury...Cury... engkaukah itu? Sahabat, masih
hidupkah kamu?” teriaknya tatkala ia melihat seekor hiu baru saja
melewati pintu jeruji besi.
Cury bergerak cepat dan langsung menerjang ekor Cute. “Ini bukan Cury, tapi hantunya!” ledeknya.
Cute hampir saja melesat saking takutnya. Untung Cury segera menangkap ekornya.
”Wuah...sobat,
pengalaman hari ini sungguh luar biasa, aku tidak menyesal!” seru Cury
heboh. Kemudian ia menceritakan pengalamannya mengarungi samudra lepas
bersama Hiu Mentor. Cury juga menceritakan pertemuannya dengan
mahluk-mahluk laut lainnya. “Aku serasa menemukan dunia baru, kini aku
percaya, di luar dari kolam tempat kita ada kehidupan lain yang lebih
variatif. Kamu harus merasakannya Cute!” tambah Cury.
Di
hari kedua Hiu Mentor mengawali perjalanan ke Lautan Luas dengan
terlebih dahulu memberikan pengarahan pada Cury. ”Hari ini aku akan
menjadi pemandumu. Berenanglah di sampingku, dan ikuti semua arah yang
kuperlihatkan kepadamu. Kedua, kamu harus melihat sebanyak mungkin mahluk hidup di sekelingmu, setiap mahluk yang lebih kecil darimu bisa engkau buru dan menjadi makananmu. Terakhir hitunglah berapa banyak makanan yang ada di lautan luas.”
Bila
hari pertama berada di lautan luas mata dan pikiran Cury menjelajah
kemana saja sesuka hatinya, sekarang ia harus bersikap seperti pemburu.
Tidak sampai satu jam, ia berenang menjelajahi lautan, hiu muda ini
sudah kewalahan menghitung begitu banyak mahluk laut yang bisa menjadi
sasaran perburuan. Cury akhirnya sadar kalau lautan luas menyediakan
begitu banyak makanan. Semua ada di lautan luas, seakang kotoran dan
rongsokan manusia juga ada di sana.
“Melihat
semua ini, aku hendak bertanya padamu, apakah menurutmmu aku sedang
menipumu?” tanya Hiu Mentor sambil mengedipkan matanya.
Dengan malu-malu Cury menggelengkan kepalanya. “Aku percaya kepadamu Hiu Mentor.”
Hiu
Mentor kemudian mengajak Cury menyelinap di balik karang, mereka
mengambil lokasi yang strategis untuk bercakap-cakap. ”Begini Cury, hati
seekor entrepreneur akan tumbuh dengan cara membangun cara pandang yang
baru tentang keadaan di sini , selain itu juga cara berpikir yang baru
tentang apa yang kita temukan.” Hiu
Mentor memandang mata Cury dalam-dalam. Ia ingin hiu muda ini mengerti
apa yang dimaksudnya. “Manusia di bumi begitu banyak yang datang ke
mall, ada yang hampir tiap hari, ada yang tiap minggu dan paling tidak
untuk sebuah keluarga di kota besar sekali sebulan, namun sebagian besar
dari mereka masuk ke mall dengan kaca mata sebagai pembeli dengan
mengeluarkan uang yang lumayan besar. Sebaliknya, entrepreneur datang ke
mall tidak hanya berbelanja, ia datang dengan kaca mata pemburu
peluang, bisnis apa yang bisa dikembangkan di sana, apa yang bisa
dipelajari dari keberhasilan toko-toko yang ada, barang baru apa yang
bisa dijual di sana. Pendeknya agenda utama pembeli membelanjakan uang,
sedangkan agenda utama entrepreneur di dalam mall adalah bagaimana
mendapatkan peluang baru.” Jelas Hiu Mentor.
Cury mengerjapkan matanya. Ia mulai menganalisa kemana arah penuturan Hiu Mentor.
“Mulai
sekarang, berpikirlah sebagai mahluk pemburu dan bukan lagi sebagai
mahluk peliharaan, engkau terlahir untuk jadi pemburu perkasa.” Saran
Hiu Mentor.
Pengalaman hebat yang dituturkan Cury di hari kedua, membuat Cute terkagum-kagum, ia menjadi sadar bahwa lautan luas sangat indah dan penuh misteri. Namun, meski demikian, ia masih belum mau menjelajahinya.
“Aku masih takut Cury. Aku ngeri membayangkan keadaan di laut luas yang
menurutku masih serba misteri itu. Aku belum memiliki keberanian
seperti dirimu.”
“Ayo,
ikutlah denganku, kamu jangan takut. Di lautan luas sana, kamu bisa
berkembang, kamu bisa menemukan apa yang kamu suka!” ajak Cury.
Tapi
Cute tetap pada pendiriannya. Ia hanya menunggu saat Cury kembali dan
mendengarkan kisah-kisah petualangannya sekembali dari lautan luas
dengan rasa ingin tahu yang menggebu-gebu.
Perkembangan
selanjutnya, Hiu Mentor mulai mengajarkan Cury bagaimana menangkap
ikan. Ia mengawasi hiu muda itu saat bertarung dengan hiu-hiu muda
lainnya dalam mempertahankan hasil buruan mereka. Hiu Mentor membiarkan
Cury mencari sendiri makanan yang disukainya. Lambat laun, melihat Cury
berkembang dan bisa menyesuaikan diri dengan cepat.
***
Suatu
hari yang indah, Hiu Mentor mengundang Cury untuk sebuah acara khusus.
Murid-murid Akademi Entrepreneur dari hiu lautan semua hadir, Cury
merasa heran. Hiu Mentor mengatakan bahwa hari ini adalah hari ujian
untuk Cury. Ia akan jadi lulusan Akademi Entrepreneurship. Ujian yang
harus ia tempuh adalah mengalahkan mahluk lautan yang lebih besar dari
tubuhnya dan sulit ditaklukan. Mahluk itu adalah seekor gurita raksasa.
Lulusan Akademi Entrepreneurship harus mampu membawa gurita raksasa
sebagai mangsa, nanti seluruh murid Akademi akan memangsa bersama
binatang itu sebagai tanda pesta kelulusan. Pertarungan seru terjadi,
gurita raksasa mengeluarkan tinta hitamnya yang sempat membuat mata Cury
perih dan pandangan jadi gelap. Namun, Cury bukan lagi hiu kolam yang
dengan bermalas-malasan tetap mendapat makan ia sekarang adalah hiu
lautan yang kreatif, gesit dan pantang menyerah. Cury bergerak lebih
cepat dari belalai gurita, menukik tajam dan berkelok dengan lincah
untuk mengarahkan taring-taringnya yang tajam untuk segera mencengkeram
punggung gurita. Sekali gigit, binatang itu mengambang dan tewas
seketika. Cury berhasil menaklukan gurita
raksasa. Semua murid bersorak, Hiu Mentor bangga. Hiu Mentor
mengumumkan Curylah pemenangnya, ia boleh memakan bagian terenak dari
gurita raksasa yaitu 3 buah jantungnya. Cury bangga dan terharu. Ia
mengambil keseluruhan 3 jantung gurita itu tapi ia memutuskan untuk
tidak memakannya namun menyerahkan semuanya kepada Hiu Mentor.
“Aku
merasa tidak layak memakan bagian terbaik dari buruanku yang pertama,
engkaulah Hiu Mentor yang paling pantas menikmatinya, tanpa inisiatifmu
menjangkau aku si hiu kolam maka seumur hidup aku hanya akan jadi hiu
kolam. Ambillah dan terimalah sebagai penghargaan dariku yang
terdalam...”
Itulah
ungkapan hormat dan penghargaan dia kepada gurunya. Hiu Mentor terharu
dan menerima penghargaan itu. Ketika ia menelannya terasa lembut dan
nikmat sekali, itulah sebuah kegembiraan seorang guru ketika seorang
murid yang sukses menyampaikan penghargaan yang tulus. Kemudian Hiu
Mentor bertanya kepada Cury apakah makna terdalam yang Cury dapatkan
selama berlatih di Akademi Entrepreneur.
”Hiu
Kolam melihat lautan sebagai tempat penuh resiko, Hiu Lautan melihat
lautan sebagai tempat penuh peluang. Oleh karena itu bagi hiu kolam,
pelatihan entrepreneur dan kehadiran seorang mentor seperti engkau
itulah yang sangat kami perlukan, kau menjadi jembatan kami untuk
kembali jadi hiu lautan ,” jawab Cury.
Hiu Mentor tersenyum penuh makna hatinya sangat merasa bahagia namun kemudian ia kembali bertanya:
“Cury
seandainya engkau harus menuliskan dalam satu kalimat tentang bagaimana
berubah menjadi hiu lautan apa yang akan kau nyatakan..?
“Hmmm,
aku harap ini bukan ujian susulan untuk aku namun baiklah barangkali
seperti ini....” Cury diam sejenak berpikir dan mengkristalkan
pendapatnya.
“Hiu
kolam dapat beralih jadi hiu lautan bila ia sangat ingin jadi hiu
lautan, semangat, percaya diri dan bersedia mempelajarinya langsung di
dalam lautan bersama seorang mentor yang dapat dipercaya...”
“Ha,
ha, ha engkau mendefinisikan dengan tepat sekali kelak ketika engkau
mencapai keahliaan seorang mentor maukah engkau menolong hiu kolam yang
lain....? Sekarang mata hiu mentor memandang tajam kepada Cury.
“Tentu,
tentu itu pasti dan aku berjanji kepadamu untuk membantu hiu-hiu kolam
yang lain” Cury menjawab dengan tegas dan tanpa ragu.
Dalam
acara kelulusan itu Hiu Mentor kemudian mengganti nama Cury menjadi
Cury The Crusher. Sebuah nama yang gagah dan mencerminkan kewibawaan.
Nama itu diambil dari nama salah seorang pahlawan hiu lautan yang pernah
mengalahkan raja gurita lautan.
Seiring
berjalannya waktu, Cury atau Cury the Crusher berkembang menjadi hiu
dewasa yang lincah, gesit dan cekatan. Ia masih menemui Hiu Mentor
secara sembunyi-sembunyi. Terkadang, tanpa sepengetahuan orangtuanya dan
hiu-hiu lain, ia keluar sendiri melalui jeruji besi pembatas kolam.
Gigi-giginya yang kuat mulai terlatih untuk membuka dan menutup jeruji
besi itu. Sahabatnya Cute masih setia menemaninya. Ikan hiu yang
‘takut-takut berani’ ini kadang berenang bersama Cury, namun ia hanya
berani mengambil jarak seratus meter dari kolam.
“Aku takut ada ikan paus, nanti aku ditelannya hidup-hidup!” katanya sambil ngacir ketika ia mulai sadar Cury mengajaknya berenang lebih ke tengah lagi.
“Hahaha…ikan paus tidak akan menelan kita. Jika ia berani, akulah yang akan menerkamnya lebih dulu!”
“Wah, kok kamu jadi ganas begitu, Cury? Biasanya kamu lembut dan baik hati.”
“Aku bukannya ganas, Cute. Tapi aku harus memiliki pertahanan diri yang kuat. Di lautan luas, jika kita tidak kreatif dan berani maka kita tidak akan mendapatkan makanan. Ingat, jika berada di sana kamu harus menjadi pemburu yang kreatif!”
“Artinya?”
“Kamu harus jeli dan bisa mencipta peluang agar bisa memperoleh makanan untuk hidup!” tegas Cury.
“Aku jadi salut padamu, Cury. Sejak bertemu Hiu Mentor, kamu tambah pintar!”
“Itulah yang kuinginkan darimu, ayo ikut aku, kita menjelajahi lautan luas!”
“Nanti, ya. Aku pikir-pikir dulu!”
“Hah, payah kamu!”
Kepiawaian
Cury di lautan luas membuat ikan-ikan hiu yang tadinya menganggap dia
sebelah mata, kini tidak lagi. Keberadaan Cury mulai diperhitungkan. Seekor
hiu bernama Hyata yang tadinya merasa sok jagoan, menjadi tunduk pada
Cury. Kisahnya begini, suatu hari, di hari ketiga Cury masuk ke dunia
lautan luas, Hyata yang merasa dirinya komandan di daerah itu merasa
terusik dengan kehadiran Cury. Apalagi saat dia melihat Hiu Mentor
memperlakukan Cury seakan anak emas.
“Kamu mau jadi jagoan di sini?” tanya Hyata sambil memonyongkan moncongnya.
“Lho, siapa yang bilang begitu?”
“Kehadiranmu itu yang membuat aku terusik!”
“Mengapa
kamu merasa terusik? Kamu tahu lautan ini luas, siapapun tidak dilarang
untuk mengarunginya. Mengapa merasa lautan ini milikmu?”
“Apa?
Kamu berani melawanku?” Hyata si hiu jantan yang usianya hampir sama
dengan Cury segera membuka mulutnya, taring-taringnya yang tajam
menyembul.
Ia menyerang tubuh Cury dengan ganas.
Cury menghindar dan berkata:”Persaingan untuk menentukan siapa yang
terbaik tidak harus melalui pertarungan yang berdarah dan merugikan
setiap kita, mari tunjukkan kemampuanmu dengan berlomba dengan aku siapa
yang mampu mendapatkan ikan itu paling cepat..”. Cury menunjuk seekor
ikan lautan yang terkenal gesit namun dagingnya paling disukai oleh
hiu-hiu lautan. Hyata tanpa menunggu komando langsung melejit mengejar
ikan tersebut, Cury walau tertinggal start awal bergerak cepat,
mengerahkan segala tenaganya. Ia menggerakkan ekor dan siripnya dengan
lincah, meliuk-liuk diantara karang sementara itu matanya mengarah dan
mengantisipasi gerakan ikan mangsa yang juga bergerak cepat karea sadar
ia menjadi sasaran buru. Hyata juga makin dekat dengan sasarannya ketika
tinggal satu hentakan lagi mencapai ikan buruan karena ia merasa
sombong ia menengok ke belakang ingin melihat dimana Cury. Kelengahan
itu sungguh dimanfaatkan Cury ia berkelok dengan cepat dan mocongnya
dengan segera menangkap buruannya. Hyata yang kalah lalu marah dan
langsung menyerang, Cury menghindar sambil berenang dengan cepat dan
menyuruh Hyata untuk menangkapnya kalau ia sanggup. Mereka saling kejar,
Hyata sangat marah dan sangat bernafsu sehingga bergerak cepat tanpa
kewaspadaan dan tiba-tiba “brukuuk” badannya terjepit diantara dua
karang. Hyata dijebak Cury masuk ke sebuah lorong karang yang sempit.
Cury yang lebih ramping dan gesit melampau lorong sempit dengan mudah
namun Hyata yang bertubuh lebih besar terjepit dan tidak bisa
menggerakan badannya. Ia berteriak-teriak minta tolong Cury untuk mengeluarkannya.
“Aku
bisa saja membunuh atau membiarkanmu di situ hingga mati
perlahan-lahan. Tapi aku tidak akan melakukannya.” Ujar Cury. Ia
kemudian membantu Hyata keluar yang kemudian dengan kepala tertunduk dan
badan terluka meninggalkan Cury.
Hiu
Mentor melihat semua itu dari kejauhan. Ia menanti jika Cury
benar-benar dalam bahaya, maka ia akan membelanya. Sebab ia tahu, Hyata
yang sombong harus ada yang berani mengalahkannya. Dan Hiu Mentor paham
dalam jiwa Cury ada jiwa kepemimpinan. Cury pasti menang, begitu
batinnya berkata.
Sejak
kekahannya, Hyata berubah, ia tidak lagi sombong dan angkuh. Cury
dihormati oleh para hiu lautan luas, hiu pemberani ini kini dijadikan
panutan. Hiu-hiu lainnya kerap bertanya tentang teknik mencari makanan
di tengah keadaan sulit. Cury yang kreatif ini, lambat laun dianggap
sebagai hiu remaja yang jenius. Hiu Mentor pun mengakui kalau Cury
berbeda dari hiu-hiu yang pernah dibinanya.
Meski
Cury sudah menguasai seluk-beluk lautan luas, ia masih ada keterikatan
dengan hiu-hiu kolam. Di sana ada ayah dan ibunya. Cury merasa ia harus
melindungi para hiu dari serangan yang bisa saja datang dengan
tiba-tiba. Dan tentu saja mereka belum tahu kalau Cury bukan lagi hiu
lugu yang hanya bisa berenang di sekitar kolam. Yang tahu semua
aktivitas Cury cuma Cute dan ibunya yang bijaksana itu. Namun baik Cute dan ibu Cury tidak sadar kalau Cury sebenarnya telah berubah menjadi hiu perkasa yang sangat dihormati oleh para hiu di lautan luas. Cury sudah berubah namun tantangan dan perubahan juga akan tetap datang silih berganti dan tidak terduga......(Bersambung)
------------------------------------------------- End Chapter 4

Tidak ada komentar:
Posting Komentar