Sekolah Kehidupan
Bagian 15:
Intrapreneur Sejati (Seseorang dengan jiwa entrepreneur tapi bekerja kepada
orang lain)
Teki, Mey dan Eti
mendiskusikan sebuah artikel Langkah Perempuan di 3 Jaman yang pernah muncul di
majalah Gatra. Kini kembali mereka membicarakan tindakan-tindakan inovatif yang
mereka lakukan di rumah majikan. Cerita Mey ternyata menginspirasi kedua sahabatnya.
“Wah seru sekali
ceritamu Mey......” Teki memberikan komentar setealh mendengar cerita bagaimana
Mey menemukan keberbakatan Grace dan menyampaikan kepada ibunya Mrs.Chen.
Tindakan Mey merupakan sebuah ekspresi semangat dan jiwa entrepreneur yang berkobar
di dalam hati Mey.
“Mey apakah kamu
diberi uang sebagai hadiah Mey dari Mrs.Chen...?” Eti bertanya kepada Mey
karena ia sendiri mendapat bonus 500 HKD dari Mr.Lee.
“Atau mendapat
dompet mahal seperti yang aku dapat dari popo Wong..?” Teki juga bertanya.
Mey hanya
menggelengkan kepala:”Tidak ada hadiah seperti itu...”
“Payah juga boss
mu itu Mey, betul kan Eti..?” Demikian Teki berpendapat.
“Pelit banget
sih........boss mu” Eti juga ikut mengeluh
“Mey kasih dia
sinyal dong, pasang muka cemberut berhari-hari, usulanmu kepada Mrs.Chen kan
penting sekali dan sangat berharga untuk keluarga mereka, masa tidak ada tanda
terima kasihnya...” Teki sekarang mulai memanas.
“Iya Mey, kalau
terjadi padaku maka aku akan kapok perhatikan mereka..”Eti juga ikut makin
panas.
Mey masih
menggeleng kepala dan dengan tetap terseyum ia berkata:
“Ingat aku pernah
katakan bahwa aku ingin bekerja dengan hands, head dan heart atau dengan otot,
otak dan hati. Otakku barangkali berpikir untuk menuntut balas jasa dari
Mrs.Chen tapi suara hatiku tidak begitu. ...”
“Koq gitu Mey,
lalu apa...?Teki sekarang bertanya.
Mey masih dengan
tenang dan teduh memberikan jawaban.
“Aku bekerja
untuk mendapatkan uang ya itu pasti sama seperti yang lain namun hatiku
mengatakan aku ingin mendapatkan sesuatu yang lebih besar dari sekedar uang
itu. Aku ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman yang bernilai setiap hari dan
pengalaman yang bernilai hanya aku dapatkan bila aku bekerja dengan sebaik
mungkin sambil melakukan inovasi. Selain itu hatiku juga mengatakan bahwa
dengan bekerja kita dapat melayani sesama, kerja adalah juga kesempatan berbuat
baik kepada sesama. Aku bahagia koq dapat memberikan sesuatu yang bernilai
untuk masa depan Grace...”
“Tidak merasa
rugi ya Mey....?” Eti sekarang bertanya menguji ketulusan Mey.
“Tidak, tidak aku
tidak merasa rugi, bahkan aku merasa rugi kalau hanya gara-gara tidak mendapat
hadiah aku pasang tampang murung berhari-hari. Jam dan hari yang aku lalui
dengan hati yang murung tidak memberikan keuntungan apa-apa kepadaku. Ya kalau
majikan menangkap sinyal itu, kalau mereka tidak menyadari juga bagaiamana? Apa
aku harus pasang muka bete setiap hari sampai akhir kontrak....? Jelas aku yang
akan dirugikan karena tidak bisa menikmati hari-hari kerja dan tidak bisa berkreasi
karena hati selalu galau. Waktu yang hilang tak pernah kembali...” Mey
menjelaskan dengan penuh kedewasaan.
“Aku harus
belajar dari kebaikan hatimu Mey, kamu tulus dan baik hati, hati mu pasti indah
Mey...”Sekarang Teki berkomentar dengan kagum.
“Berbahagialah
pria yang menjadi kekasihmu Mey...” Eti juga ikut kagum.
“Eh Mey memangnya
kamu sudah ada kekasih...?”Teki sekarang bertanya.
“Itu dulu, .....sekarang
tidak lagi...”Mey menjawab sambil terseyum.
“Memangnya
kenapa, broken heart nih ye...” Teki menggoda
“Ya begitulah,
jauh di mata jauh di hati, tetapi aku tetap bahagia koq......” Mey berkata
dengan tetap terseyum dan kemudian ia balik bertanya kepada Teki:
“Kamu sendiri
bagaimana Teki...?”
“Mirip denganmu
hanya lebih parah, aku single parent..”Teki menjawab dengan sedikit sedih.
“Dan kau
Eti....?” Sekarang Mey bertanya ke Eti.
“Hmm, patah hati
sebelum pacaran..” Eti menjawab.
“Ha.. ha ...
ha.., ” Mereka tertawa bersama
“Jomblo sejati
teh Eti...”Mey sekarang mulai bercanda.
“Hmm merasa sepi
tidak ada kekasih...? Teki membuka percakapan kembali.
“Ya
kadang-kadang... tapi aku sudah memutuskan ada atau tidak ada kekasih aku mau
jadi orang sukses yang bahagia” Mey menjawab.
“Mey ucapanmu itu
membuat aku jadi ingat sebuah kalimat yang pernah diposting di FB Mandiri
Sahabatku, aku periksa sebentar ya...., nah
nah ini kalimatnya..”Eti berkata dan menunjukkan HP nya kepada
teman-temannya dan tertulis disana.
---------------------------------------------------
Don’t wait for someone to
bring you flowers. Plant your own garden and decorate your own soul (Jangan
menunggu seseorang datang membawa seikat bunga untukmu tapi perindahlah taman hidup
kita dengan bunga yang kita tanam sendiri)
-----------------------------------------------------
“Ya ya aku ingat tuh
Teki…sebab untuk dunia bisnis pepatah itu bisa berbunyi jangan hanya menunggu
pembeli datang ke toko kita tapi percantik dan perbaiki toko kita sehingga
begitu indah dan membuat orang datang ke toko kita….”Eti berbagi pendapat
dengan teman-temannya.
“Kalau menurut ku bisa juga
diartikan juga jangan bengong tiap hari memusingkan masa depan tapi belajar dan
bertindaklah setiap hari sehingga dari waktu ke waktu masa depan akan makin
jelas dan makin mantap..” Sekarang Mey juga urun rembug.
“Sip sip sip, sekarang
giliranku nih…”Teki tidak mau ketinggalan.
“Jangan hanya menunggu
seseorang datang memberi rejeki tapi berinovasilah setiap hari sehingga rejeki
merasa pantas datang ke pelukan anda…”
“Hebat..hebat…, satu lagi
satu lagi aku ingat posting pak Antonius tentang hal ini yaitu nasehatnya
kepada Iona anak perempuannya, ini dia postingnya…”Demikian Eti juga ikut
berkata dengan semangat.
-------------------------------------------------------------------------
Jangan menanti-nanti seorang pria
datang meminangmu tapi inovasikan dan entrepreneurkan dirimu sendiri sedemikian
rupa sehingga hanya pria bodoh yang tidak mau kepadamu.
--------------------------------------------------------------------------
“Ha... ha... ha,
lucu juga ya...” Mereka bertiga tertawa terpingkal.
“Rupanya banyak
pria bodoh di sekitar kita, sombong ni ye...”Teki bercanda membuat suasana
makin ceria.
“Jadi bisa aku
simpulkan Jomblo + Entrepreneurship = Masa Depan Cerah, biar jomblo tetap
bahagia dan sukses asal bersama entreprenurship, setuju teman-teman...?” Eti
yang radar cintanya sering blank menyimpulkan dengan ringan dan riang.
Mereka masih
tergelak penuh tawa namun tiba-tiba telepon berdering di HP Mey...kring...kring...kring
“Ops.... ini dari
Indonesia, ada apa ya....”Mey segera mengangkat telepon
“Halo-halo......
Apa! ...Yang betul!...Dimana, kapan bagaimana!!
Aduh kasihan sekali adikku harus operasi....Jadi bagaimana? Aku harus
pulang....? Sungguh...? Kapan....? Sekarang? Harus sekarang...? Demikian
percakapan-percakapan yang Teki dan Eti dengar dan tak lama kemudia telepon
ditutup dan Mey menangis terisak-isak.
“Aku baru
membelikan sebuah motor untuk adik, sekarang kecelakaan dan harus dioperasi....
aku nyesal... aku nyesal membelikan motor. Sekarang mereka minta aku pulang
segera, sekarang bukan waktu cuti dan juga bagaimana mendapatkan tiket di hari Minggu...?
Teki dan Eti
berusaha menghibur:”Mey yuk kami bantu sebisanya, sekarang mari pulang dengan
segera dan minta Mrs.Chen membantumu mendapatkan tiket, dia kan orang penting
di perusahaan penerbangan...”
“Betul-betul Mey,
Mr.Chen pasti membantumu mendapatkan tiket itu, kau kan sudah berjasa kepada
dia...?
(Bersambung)
Pertanyaan untuk refleksi:
Apa yang aku pelajari dari cerita Sekolah Kehidupan pada bagian ini..?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar