NOW you can learn to be entrepreneur!
CURY si Hiu Kolam jadi Hiu LAUTAN
Kisah Inspirasi ENTREPRENEURSHIP
|
Bacaan untuk Usia 10 sd 100 tahun
BACAAN UNTUK USIA 10 S/D 100 TAHUN
---------------------------------------------------------------
BAB 3
Bertemu dengan Cute
Cury
berpisah dengan Hiu Mentor. Perasaannya kacau balau, ada rasa gembira,
takut, khawatir juga harapan. Ia merasa ini peluang yang bagus, namun di
satu sisi ia juga merasa khawatir pertemuan ini akan berbahaya baginya.
Inikah yang dinamakan perubahan? Tanyanya dalam hati. Saat ia tengah
berenang dengan pikiran kalut, Cute, seekor hiu seusianya yang juga
sahabat Cury mendekati dirinya dengan tergopoh-gopoh. Rupanya ia
mengintip apa yang telah dilakukan Cury bersama Hiu Mentor.
Cute,
adalah hiu yang lucu, gampang tertawa dan juga menangis. Selain itu, ia
kadang berani, kadang penakut. Apapun yang dirasakan Cute, selalu
terlihat di wajahnya yang selalu tampak tak berdosa. “Aduh Cury, kamu
berani benar berenang di Daerah Penuh Resiko. Kamu tahu itu berbahaya.
Cury, kamu jangan kesana lagi, awas, kalau kamu masih mendatangi tempat
itu, akan kulaporkan ulahmu pada ayah dan ibumu serta para tetua hiu!”
Cury
tersenyum. Ia langsung teringat apa yang dikatakan Albert Einstein.
”Hanya orang gila yang berharap hasil yang berbeda dari tindakan yang
sama secara terus menerus.”
“Terima kasih atas perhatianmu Cute, aku hanya ingin mengetahui semua kemampuan dan potensi diriku. Aku merasa dilahirkan bukan untuk menjadi hiu kolam.”
“Kamu
maunya apa sih? Kita kan sudah enak tinggal di sini. Kamu mau apa lagi?
Di laut luas kamu harus kerja keras mencari makan sendiri. Di sini kita
tinggal terima bersih, tidak perlu repot-repot mencari makanan. Duh
Cury, aku tidak paham jalan pikiranmu.” Keluh Cute dengan mimik wajah
ketakutan.
“Aku malah berpikir sebaliknya, kalau kita terus-menerus berada di sini, lambat laun kita akan mati kegendutan.”
“Cury...Cury...apakah
kamu tidak ingat waktu jeruji besi kolam kita jebol? Kita kelabakan
mencari makanan dan jalan pulang. Ingat sobat, kita tidak bisa
meninggalkan kebiasaan kita sebagai hiu kolam.” Cute terus menasehati
Cury. “Kamu harus ingat akan nasehat orangtua dan para sesepuh hiu di
kolam kita, bahwa di lautan luas, di luar dari jeruji sangat berbahaya. Kamu akan mati di sana Cury, hidup di laut luas penuh resiko, tahu!”
Cury
menutup telinganya, ia tahu bahwa semakin banyak ia berikan kesempatan
kepada Cute untuk menasehatinya, maka keberanianya akan menurun. Lalu ia
berkata dengan tegas pada sahabatnya itu, “Cute, aku tahu bila kucoba
bisa saja aku beresiko gagal, namun kalau tidak kucoba itu sama artinya
aku memutuskan untuk gagal. Sobat, hidup ini selalu ada resiko untuk
perubahan, aku sudah mengukur resiko itu, hidup ini sangat berharga, itu
sebabnya aku tidak mau melakukan hal-hal yang biasa. Selain itu Hiu Mentor terbukti bisa dipercaya, kalau ia hendak memangsa aku, tidak perlu besok, ia
lakukan ketika aku dekat dengannya, dia bisa membuka jeruji besi dengan
mudah. Tapi nyatanya dia tidak tidak melakukannya.” Cury diam sejenak.
Ia merenungkan kembali momen-momen pertemuannya dengan Hiu Mentor.
Lalu
katanya lagi pada Cute, “Ketika aku makin dekat dengan Hiu Mentor,
sesungguhnya aku merasakan keberanianku makin bertambah, tatapan matanya
membuat aku merasa percaya diri, ucapannya membuat aku makin
bersemangat, ia seekor hiu yang percaya bahwa kemampuanku lebih daripada
aku percaya kepada diriku sendiri.”
“Tapi
bisa saja dengan cara begitu dia mencoba menjebakmu, nanti setelah kamu
berada di laut luas, dia akan memakanmu. Di sana tidak seekor hiu kolam
pun yang bisa menolongmu!”
Tapi
Cury sudah membulatkan tekad. “Selama bertahun-tahun aku melakukan hal
yang sama, dengan cara yang sama bersama hiu yang sama. Aku juga
menikmati hasil yang sama terus menerus. Kalau aku meneruskannya aku
sudah dapat menebak apa yang akan terjadi tahun depan di tanggal yang
sama. Jauh dalam lubuk hatiku aku merasa bahwa aku dilahirkan bukan
untuk itu. Aku akan bergerak menuju impian-impian masa depan. Cute
sahabatku, aku berjanji untuk berhati-hati, aku akan memperhitungkan
resiko dari semua yang aku lakukan, aku akan menemuimu setiap saat, dan menceritakan pengalamanku. Kumohon jangan halangi aku untuk mencoba sesuatu yang baru..”
Restu Seorang ibu
Cury
seorang anak yang taat, ia tahu rencana masa depannya akan mendapatkan
banyak tantangan namun ia memutuskan untuk mendapatkan restu terlebih
dahulu dari orang tuanya dan untuk itu ia menemui ibunya.
“Bunda,
aku tidak mau jadi hiu kolam sampai aku mati, aku ingin jadi hiu lautan
yang mampu menjelajah lautan kemanapun aku suka...” Cury dengan wajah
memelas memohon restu ibunya untuk bergabung dengan hiu mentor.
Ibu Cury ternyata seorang ibu yang penuh pengertian dan sangat bijaksana dengan mengelus kepala Cury ia berkata:
“Bunda
bangga memiliki anak pemberani, kakek nenek kita memang hiu lautan.
Benih-benih keberanian, kreativitas dan keperkasaan hiu kolam sudah
terpenjara oleh rasa takut kita sendiri selama bertahun-tahun. Untunglah
itu tidak punah sama sekali dalam diri mu anakku..., kita memang bukan
seharusnya berada di kolam”
Cury
seakan tidak percaya, ia memandang wajah ibunya yang dengan seyum yang
paling manis dan mata yang penuh kebanggaan menatapnya. Cury merangkul
ibunya dan berterima kasih berkali-kali.
“Cury
lakukan apa yang ada dalam hatimu, restu ibu menyertaimu namun
berhati-hatilah dan untuk sementara ini jangan dulu ceritakan kepada
siapapun....”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar