Jumat, 26 Oktober 2012

SEKOLAH KEHIDUPAN Bagian 6

Sekolah Kehidupan
Bagian 6: Intrapreneur


Popo Wong majikan Teki sangat gundah karena hasil test darah menunjukkan bahwa angka kolesterolnya 285 padahal angka normal yang masih dapat diterima adalah 200. Yang paling mengkhawatirkan popo Wong adalah kehilangan kesempatan kumpul-kumpul sambil makan enak setiap Kamis siang dengan teman-teman karibnya Geng 5 Angsa Cantik.  Untunglah Teki sudah paham dasar-dasar ilmu entrepreneurship karena ia baru saja menyelesaikan kelas Dasar Mandiri Sahabatku.  Ia menjelaskan kepada teman-temannya:
“Nah untuk mendapatkan solusi aku mulai dengan mengumpulkan informasi dan mencari tahu dari banyak sumber. Aku browsing internet, nah itu lho enaknya punya laptop, jadi gampang mencari informasi. Aku juga telepon temanku si Ida yang kerja ke dokter Chen supaya tanya-tanya sedikit apa saja yang harus dilakukan dan dari Ida aku diberi tahu bahwa kata dr.Chen pola makan sehari hari harus diubah. Aku langsung twing tuh di otak, menu setiap hari  untuk popo aku kan yang mengatur. Dan dari internet aku mengetahui bahan makanan apa saja yang memberikan pengaruh besar  dapat menambah atau mengurangi angka kolesterol...”
“Lalu lalu setelah itu memangnya apa yang kau lakukan...?” Mei mulai makin tertarik.
“Setelah aku mengumpulkan dan mendapatkan informasi aku datang kepada popo dan mengatakan bahwa dia tidak usah sedih dan bisa tetap ikut makan siang setiap hari Kamis dan ada solusi untuk masalah kolesterol tinggi. Si popo kaget juga waktu aku berkata itu, dia kan pasti tidak menyangka, memang selama ini aku hanya pikir pekerjaaan domestic worker itu hanya kerjaan otot padahal bisa pakai otak juga..” Teki sedikit menarik nafas lalu melanjutkan.
“Aku mengatakan kepada popo ada 3 hal yang harus dilakukan sebagai solusi. Pertama aku akan mengajukan kepada popo menu makanan sepanjang minggu yang ramah terhadap kolesterol, aku jamin tetap enak, popo tidak perlu takut. Usulan kedua popo agar konsultas idengan dr.Chen karena ternyata menurut Ida temanku majikan dia memang ahli soal tsb. Ketiga aku usul sebelum acara makan siang Kamis maka beberapa hari sebelumnya menu makanan di restoran yang akan dituju di check dulu, aku menawarkan diri untuk datang ke restoran tsb dan mengcopy menu. Jadi bisa kita pilih dengan tenang mana saja menu yang ramah terhadap kolesterol jika perlu konsultasi ke dr.Chen yang ahli gizi itu.”
Kemudian Teki menjelaskan bahwa makanan rendah kolesterol adalah makanan dari bahan nabati jadi harus membatasi sumber hewani. Makanan dari sumber nabati juga mengandung bahan aktif non nutrisi yang dapat menurunkan kadar kolesterol. Ini bukan berarti tidak memakan sama sekali sumber pangan hewani, melainkan harus membatasi dan memilih. Sebagai contoh daging sebaiknya yang berserat halus, seperti daging ayam. Jika ingin makan daging sapi, pilih yang tanpa lemak. Hindari otak dan jeroan. Pilih ikan yang relatif rendah kolesterolnya kalau dibanding kerang-kerangan. 

Juga Fast food  apa pun jenisnya, sebaiknya dikurangi atau dibatasi.
 “Apa respon popo Wong, apakah dia membeli idemu Teki...?” Eti bertanya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
“Nih buktinya.....”Teki menjawan dengan cepat sambil menunjukkan sesuatu yaitu dompetnya yang baru.
“Saking senangnya popo Wong memberikan dompet mahal yang sesungguhnya hadiah dari anaknya yang tinggal di US....”
“Wah, sip-sip Teki, tapi apa ini juga entrepreneurship..... koq tidak ada transaksi yang berhubungan dengan uang sih..? Mei tiba-tiba berkomentar. Eti yang diam-diam menyimak terus dengan sigap menjawab sebelum Teki sendiri yang menjelaskan.
“Mei, masih ingat  ngga semangat dan kecakapan entrepreneur itu tidak hanya berurusan dengan bisnis. Dan kalau orang-orang seperti kita yang belum punya bisnis dan masih kerja ke majikan tapi bisa mempraktekkan ilmu “mengubah kotoran dan rongsokan jadi emas” atau entrepreneurship maka kita disebut sebagai Intra-preneur..., betul kan?”
Teki yang sudah lebih siap meneruskan:””100 untuk Eti, masih pelajaran minggu pertama. Ya betul Mei seperti itu penjelasannya..” Namun Mei yang masih bingung kembali bertanya.
“Kata pak Dharma dan pak Agung entrepreneur itu harus ber inovasi...., lha inovasimu yang mana Teki...?
Dengan tenang Teki menjawab: “Inovasi itu kan kreatifitas yang diterima pasar sedangkan kreativitas adalah hal-hal yang baru, beda dan orsinil dan bisa dijelaskan. Bukankah hal-hal yang aku lakukan dalam mencari solusi untuk popo sesuatu yang baru, berbeda dan orsinil. Bukanlah tidak semua domestic worker di Hong Kong bisa melakukan inistiaf kreatif seperti itu?” Teki sambil terseyum kembali berkomentar: “Aku kan lulusan Mandiri Sahabatku, cara berpikir sudah beda lho...”
Sekarang Eti yang makin mantap ikut menjelaskan kepada Mei:”Dalam kasus ini yang jadi pelanggan adalah popo dan buktinya popo membeli gagasan itu dan memberi Teki hadiah dompet mahal, nah dompet mahal itu ada uangnya lho Mei. Hanya dengan modal gagasan Teki bisa medapatkan dompet mahal, itukan Creating Money Without Money...”
“Ya-ya betul, betul..” Mei sekarang jadi paham dan ia kemudian berkomentar lagi:”Ya aku jadi ingat cerita Creating Money without Money di Novel Tantangan 1 Milyard Ciputra yang ditulis pak Antonius Tanan..” Sekarang ke tiga sahabat asyik melihat-lihat dompet mahal hadiah popo Wong, Eti dan Mei merasa ikut bangga memiliki teman seperti Teki yang tak pudar semangat entrepreneurshipnya dan bahkan bisa membuktikan diri bahwa ia sekarang sudah memiliki benih-benih semangat dan kecakapan entrepreneurship.   
“Kalau ceritaku ada hubungannya dengan uang lho....”Mei yang mendapat giliran berbicara yang kedua sekarang mengambil giliran.
“Apa kamu sudah mulai dagang Mei...? Serempak Teki dan Eti bertanya.
“Aha, tidak aku hanya memberikan ide inovatif meningkatkan bisnis restoran nya majikan ku Mr.Lee dan itu sukses lho jadi aku baru saja dapat bonus dari Mr.Lee.., mau tahu ceritanya kan”? Mei berkata sambil mengerlingkan mata menggoda rasa ingin tahu teman-temanya.
“Mau, mau, mau, mau banget...” Teki dan Eti menjawab bersama.
(Bersambung) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar