Sekolah Kehidupan
Bagian 6: Intrapreneur
Popo Wong majikan Teki sangat gundah karena hasil test
darah menunjukkan bahwa angka kolesterolnya 285 padahal angka normal
yang masih dapat diterima adalah 200. Yang paling mengkhawatirkan popo
Wong adalah kehilangan kesempatan kumpul-kumpul sambil makan enak setiap
Kamis siang dengan teman-teman karibnya Geng 5 Angsa Cantik. Untunglah
Teki sudah paham dasar-dasar ilmu entrepreneurship karena ia baru saja
menyelesaikan kelas Dasar Mandiri Sahabatku. Ia menjelaskan kepada
teman-temannya:
“Nah untuk mendapatkan solusi aku mulai dengan
mengumpulkan informasi dan mencari tahu dari banyak sumber. Aku browsing
internet, nah itu lho enaknya punya laptop, jadi gampang mencari
informasi. Aku juga telepon temanku si Ida yang kerja ke dokter Chen
supaya tanya-tanya sedikit apa saja yang harus dilakukan dan dari Ida
aku diberi tahu bahwa kata dr.Chen pola makan sehari hari harus diubah.
Aku langsung twing tuh di otak, menu setiap hari untuk popo aku kan
yang mengatur. Dan dari internet aku mengetahui bahan makanan apa saja
yang memberikan pengaruh besar dapat menambah atau mengurangi angka
kolesterol...”
“Lalu lalu setelah itu memangnya apa yang kau lakukan...?” Mei mulai makin tertarik.
“Setelah aku mengumpulkan dan mendapatkan informasi aku
datang kepada popo dan mengatakan bahwa dia tidak usah sedih dan bisa
tetap ikut makan siang setiap hari Kamis dan ada solusi untuk masalah
kolesterol tinggi. Si popo kaget juga waktu aku berkata itu, dia kan
pasti tidak menyangka, memang selama ini aku hanya pikir pekerjaaan
domestic worker itu hanya kerjaan otot padahal bisa pakai otak juga..”
Teki sedikit menarik nafas lalu melanjutkan.
“Aku mengatakan kepada popo ada 3 hal yang harus
dilakukan sebagai solusi. Pertama aku akan mengajukan kepada popo menu
makanan sepanjang minggu yang ramah terhadap kolesterol, aku jamin tetap
enak, popo tidak perlu takut. Usulan kedua popo agar konsultas idengan
dr.Chen karena ternyata menurut Ida temanku majikan dia memang ahli soal
tsb. Ketiga aku usul sebelum acara makan siang Kamis maka beberapa hari
sebelumnya menu makanan di restoran yang akan dituju di check dulu, aku
menawarkan diri untuk datang ke restoran tsb dan mengcopy menu. Jadi
bisa kita pilih dengan tenang mana saja menu yang ramah terhadap
kolesterol jika perlu konsultasi ke dr.Chen yang ahli gizi itu.”
Kemudian Teki menjelaskan bahwa makanan
rendah kolesterol adalah makanan dari bahan nabati jadi harus membatasi
sumber hewani. Makanan dari sumber nabati juga mengandung bahan aktif
non nutrisi yang dapat menurunkan kadar kolesterol. Ini bukan berarti
tidak memakan sama sekali sumber pangan hewani, melainkan harus
membatasi dan memilih. Sebagai contoh daging sebaiknya yang berserat
halus, seperti daging ayam. Jika ingin makan daging sapi, pilih yang
tanpa lemak. Hindari otak dan jeroan. Pilih ikan yang relatif rendah
kolesterolnya kalau dibanding kerang-kerangan.
Juga Fast food apa pun jenisnya, sebaiknya dikurangi atau dibatasi.
“Apa respon popo Wong, apakah dia membeli idemu Teki...?” Eti bertanya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
“Nih buktinya.....”Teki menjawan dengan cepat sambil menunjukkan sesuatu yaitu dompetnya yang baru.
“Saking senangnya popo Wong memberikan dompet mahal yang sesungguhnya hadiah dari anaknya yang tinggal di US....”
“Wah, sip-sip Teki, tapi apa ini juga
entrepreneurship..... koq tidak ada transaksi yang berhubungan dengan
uang sih..? Mei tiba-tiba berkomentar. Eti yang diam-diam menyimak terus
dengan sigap menjawab sebelum Teki sendiri yang menjelaskan.
“Mei, masih ingat ngga semangat dan kecakapan
entrepreneur itu tidak hanya berurusan dengan bisnis. Dan kalau
orang-orang seperti kita yang belum punya bisnis dan masih kerja ke
majikan tapi bisa mempraktekkan ilmu “mengubah kotoran dan rongsokan
jadi emas” atau entrepreneurship maka kita disebut sebagai
Intra-preneur..., betul kan?”
Teki yang sudah lebih siap meneruskan:””100 untuk Eti,
masih pelajaran minggu pertama. Ya betul Mei seperti itu
penjelasannya..” Namun Mei yang masih bingung kembali bertanya.
“Kata pak Dharma dan pak Agung entrepreneur itu harus ber inovasi...., lha inovasimu yang mana Teki...?
Dengan tenang Teki menjawab: “Inovasi itu kan
kreatifitas yang diterima pasar sedangkan kreativitas adalah hal-hal
yang baru, beda dan orsinil dan bisa dijelaskan. Bukankah hal-hal yang
aku lakukan dalam mencari solusi untuk popo sesuatu yang baru, berbeda
dan orsinil. Bukanlah tidak semua domestic worker di Hong Kong bisa
melakukan inistiaf kreatif seperti itu?” Teki sambil terseyum kembali
berkomentar: “Aku kan lulusan Mandiri Sahabatku, cara berpikir sudah
beda lho...”
Sekarang Eti yang makin mantap ikut menjelaskan kepada
Mei:”Dalam kasus ini yang jadi pelanggan adalah popo dan buktinya popo
membeli gagasan itu dan memberi Teki hadiah dompet mahal, nah dompet
mahal itu ada uangnya lho Mei. Hanya dengan modal gagasan Teki bisa
medapatkan dompet mahal, itukan Creating Money Without Money...”
“Ya-ya betul, betul..” Mei sekarang jadi paham dan ia
kemudian berkomentar lagi:”Ya aku jadi ingat cerita Creating Money
without Money di Novel Tantangan 1 Milyard Ciputra yang ditulis pak
Antonius Tanan..” Sekarang ke tiga sahabat asyik melihat-lihat dompet
mahal hadiah popo Wong, Eti dan Mei merasa ikut bangga memiliki teman
seperti Teki yang tak pudar semangat entrepreneurshipnya dan bahkan bisa
membuktikan diri bahwa ia sekarang sudah memiliki benih-benih semangat
dan kecakapan entrepreneurship.
“Kalau ceritaku ada hubungannya dengan uang lho....”Mei yang mendapat giliran berbicara yang kedua sekarang mengambil giliran.
“Apa kamu sudah mulai dagang Mei...? Serempak Teki dan Eti bertanya.
“Aha, tidak aku hanya memberikan ide inovatif
meningkatkan bisnis restoran nya majikan ku Mr.Lee dan itu sukses lho
jadi aku baru saja dapat bonus dari Mr.Lee.., mau tahu ceritanya kan”?
Mei berkata sambil mengerlingkan mata menggoda rasa ingin tahu
teman-temanya.
“Mau, mau, mau, mau banget...” Teki dan Eti menjawab bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar