Jumat, 26 Oktober 2012

SEKOLAH KEHIDUPAN Bagian 12

Sekolah Kehidupan
Bagian 12: Kecerdasan Jamak


Mey menjelaskan kepada Teki dan Eti bahwa ia membaca artikel tentang Kecerdasan Jamak atau Multiple Intelligence dan kemudian ia mendalami pengetahuan baru itu.
“Konsep Kecerdasan Jamak menyatakan bahwa Kecerdasan itu tidak hanya satu jenis. Misalnya dulu waktu aku di sekolah, anak-anak yang dianggap cerdas adalah anak-anak yang jago MAFIA nya...”
“Apa itu MAFIA, masa cerdas koq MAFIA an...”Eti langsung memberikan komentar.
“Oh bukan Mafia itu teh Eti, waktu aku sekolah dulu yang namanya MAFIA itu Matematika, Fisika dan Kimia, aku jelaskan dulu ya sampai tuntas...” Demikian Mey menjawab.
“Setuju,... setuju,.. hayo Mey teruskan..”Teki kembali memberi semangat.
“Padahal menurut Prof Gardner,  kecerdasan itu macam-macam, ada cerdas matematika seperti pak Agung Waluyo tuh yang sekolahnya sampai S3 di bidang Fisika. Ada juga yang cerdas musikal, itu sih gampang siapa pemusik top pasti punya kecerdasan ini, mbak Dian yang membuat lagu Salam 3 Jari adalah juga contohnya. Selanjutnya cerdas bahasa misalnya mbak Gladys yang membuat puisi Kurcaci Kecil dan teman-teman BMI lain yang jadi penulis.  Kalau yang cerdas spatial atau visual adalah mereka ahli mengolah gambar seperti pelukis, komikus dan seniman patung. Kemudian cerdas kinestetis..., ini adalah cerdas atau terampil mengolah tubuh dan anggota tubuh, misalnya para  olah ragawan, penari dan termasuk teman-teman kita yang tangannya terampil membuat hasta karya yang indah dan juga yang pintar kuliner, mereka punya tangan yang cerdas dalam mengolah makanan...”
Teki dan Eti terpana dengan wawasan Mey yang sangat luas sekarang, tampaknya ia sudah lulus dari jenjang SMP atau Selalu Menjadi Pembelajar di dalam Sekolah Kehidupan. Mey kembali meneruskan penjelasannya:
“Berikutnya adalah kecerdasan interpersonal atau cerdas mengelola relasi dengan orang lain. Mereka yang cerdas dalam hal ini gampang sekali berelasi dengan orang lain, baik membuka percakapan dan membangun pertemanan. Ini penting lho dalam kecakapan menjual. ...........Setelah itu kecerdasan Intrapersonal, orang yang cerdas dalam hal ini adalah orang yang senang memikirkan dan merenungkan diri sendiri untuk lebih memahami diri. Selanjutnya kecerdasan alam atau naturalistik, orang-orang ini sangat suka dengan alam dan binatang, contohnya itu lho teman-teman yang suka hiking dan panjat gunung. Yang terakhir kecerdasan eksistensialis, ini yang paling sulit deh untuk aku karena orang-orang ini suka filsafat dan pemikiran-pemikiran tentang kehidupan yang mendalam...”
“Waduh aku rasanya bukan orang yang cerdas nih Mey..., kasihan deh aku.” Eti berkata sambil memelas.
“Nanti dulu Eti coba dengarkan dulu, setiap kita memiliki ragam kecerdasan namun tingkatannya berbeda-beda, memang ada beberapa orang tertentu sudah memiliki bakat istimewa sejak kecil namun bakat saja tanpa pelatihan dan pengembangan tidak akan jadi prestasi......”
“Oh gitu ya Mey,...... nah kalau aku sendiri rasanya kecerdasan matematikanya rendah sekali, pokoknya jeblok deh, soalnya waktu belajar angka-angka dengan mbak Rima dan pak Winarto mumet seharian...... yo dilatih kayak apapun rasanya tidak bisa sejajar dengan Einstein, gimana tuh Mey...”Teki dengan kristis menjawab.
Mey yang sudah banyak membaca tentang Kecerdasan Jamak dengan tenang menerangkan:”Pertanyaan yang bagus Teki...... oleh karena itulah kita harus paham dengan tepat apa keberbakatan kita dan bila kita paham maka kita dapat membangun masa depan kita berdasarkan titik-titik terkuat hidup kita. Dan jangan merasa miskin bakat lho, aku percaya TUHAN memberikan lebih dari cukup, kita dapat memiliki beberapa atau banyak bakat, namun tugas kita adalah mencari, memahami dan menumbuhkannya.”
“Hmm, seperti istilah Ekspresi Diri ya dalam salam entrepreneur atau salam 3 jari itu...” Eti yang sudah makin paham bisa berkomentar.
“Itu tepat sekali, menurut pak Antonius Tanan, Ekspresi Diri itu artinya sanggup mengentrepreneurkan keberbakatan kita sehingga sanggup mencapai Ekonomi Sejahtera...”
“Jadi penasaran nih Mey, yuk kita tebak mentor-mentor UCEC itu punya kecerdasan apa saja ya, kalau pak Agung kan pasti cerdas matematika, kalau pak Winarto apa ya....?”Teki mengajak dua temannya berdiskusi.
“Rasanya cerdas logika matematika juga tuh habis ngajarnya yang pakai angka-angka ...” Sekarang Eti mulai paham.
“Kalau pak Antonius...?” Kembali Teki menantang.
“Mungkin cerdas bahasa ya, habis tulis novel dan puisi ...”Eti sekarang makin paham.
“Kalau pak Dharma...? Teki terus menantang
“Wah kalau pak Dharma orangnya gaul pisan, pasti punya kecerdasan interpersonal...”Eti menjawab dengan percaya diri sambil matanya terus melihat contekan definisi kecerdasan jamak di HP milik Mey.
“Kalau mbak Rima...?” Teki kembali bertanya.
“Ini sih gampang, yang pasti mbak Rima adalah yang paling cerdas diantara para mentor UCEC...!”Eti menegaskan
“Hidup perempuan, bagaimana kau bisa tahu itu Eti..” Mey sekarang berkomentar.
“Iya dong mbak Rima pasti yang paling cerdas, bayangkan dia satu-satunya perempuan ditengah 4 laki-laki yang lebih senior dan dia bisa masuk dalam tim mentor UCEC, apa itu bukan hebat...” Eti dengan cepat menjawab.
“Ha... ha.. ha.., hidup perempuan Indonesia...” Sekarang mereka bertiga serempak tertawa dan berpelukan merayakan kehebatan perempuan Indonesia.
“Tapi apa betul kita dapat punya lebih dari satu kecerdasan Mey...?” Teki yang masih ragu, terus berpikir bertanya lagi ke Mey.
“Ya aku percaya kita bisa punya beberapa keberbakatan yang menonjol, misalnya para mentor dan trainer kita selain memiliki kecerdasan-kecerdasan masing-masing pasti mereka juga memiliki kecerdasan berbahasa, paling tidak kan mereka pandai berbicara di depan umum dengan lancar, tapi jangan lupa ya latihan itu penting, mereka pasti sudah terlatih...”Mey menjelaskan bak seorang guru.
“Satu pertanyaan terakhir Mey, diantara ke 9 itu mana yang paling menentukan keberhasilan...?” Teki bertanya dengan serius.
“Menurut para ahli yang paling menentukan adalah  kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal atau kecerdasan dalam mengelola hubungan dengan orang lain dan kecerdasan mengelola diri sendiri. Katanya sih itu yang namanya EQ atau Emotional Quotient. Dan kabar baiknya dua kecerdasan itu adalah kecerdasan yang paling ramah terhadap pelatihan artinya kita bisa meningkatkan kecerdasan kita dalam 2 hal tsb dengan cepat asal kita mau dan disiplin. TUHAN itu baik ya, bagian-bagian yang paling menentukan adalah bagian yang paling lentur untuk dibentuk. Makanya teruslah meningkatkan ketrampilan menjual karena itu contoh kecerdasan interpersonal...” Demikian Mey menjelaskan.
“Satu pertanyaan terakhir dari aku Mey...”Sekarang Eti yang bertaya
“Silahkan, apa itu, sebisanya aku akan menjawab..”Mey menjawab kalem.
“Kapan kamu ceritakan hubungan Kecerdasan Jamak dengan berentrepreneur di rumah majikan...?” Eti meneruskan pertanyaannya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
“Oh ya hampir aku lupa dengan yang paling utama..., yup sekarang aku siap” Mey segera menjawab.
(Bersambung)
Refleksi: Apa kecerdasan anak-anak Anda dan bagaimana mereka bisa menumbuhkan keberbakatan mereka? Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua dan guru untuk membantu anak-anak menumbuhkan kecerdasan intrapersonal dan interpersonal (2 kecerdasan yang memiliki pengaruh besar untuk masa depan mereka)?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar