Sekolah Kehidupan
Bagian 12: Kecerdasan Jamak
Mey menjelaskan kepada Teki dan Eti bahwa ia membaca
artikel tentang Kecerdasan Jamak atau Multiple Intelligence dan kemudian
ia mendalami pengetahuan baru itu.
“Konsep Kecerdasan Jamak menyatakan bahwa Kecerdasan itu
tidak hanya satu jenis. Misalnya dulu waktu aku di sekolah, anak-anak
yang dianggap cerdas adalah anak-anak yang jago MAFIA nya...”
“Apa itu MAFIA, masa cerdas koq MAFIA an...”Eti langsung memberikan komentar.
“Oh bukan Mafia itu teh Eti, waktu aku sekolah dulu yang
namanya MAFIA itu Matematika, Fisika dan Kimia, aku jelaskan dulu ya
sampai tuntas...” Demikian Mey menjawab.
“Setuju,... setuju,.. hayo Mey teruskan..”Teki kembali memberi semangat.
“Padahal menurut Prof Gardner, kecerdasan itu
macam-macam, ada cerdas matematika seperti pak Agung Waluyo tuh yang
sekolahnya sampai S3 di bidang Fisika. Ada juga yang cerdas musikal, itu
sih gampang siapa pemusik top pasti punya kecerdasan ini, mbak Dian
yang membuat lagu Salam 3 Jari adalah juga contohnya. Selanjutnya cerdas
bahasa misalnya mbak Gladys yang membuat puisi Kurcaci Kecil dan
teman-teman BMI lain yang jadi penulis. Kalau yang cerdas spatial atau
visual adalah mereka ahli mengolah gambar seperti pelukis, komikus dan
seniman patung. Kemudian cerdas kinestetis..., ini adalah cerdas atau
terampil mengolah tubuh dan anggota tubuh, misalnya para olah ragawan,
penari dan termasuk teman-teman kita yang tangannya terampil membuat
hasta karya yang indah dan juga yang pintar kuliner, mereka punya tangan
yang cerdas dalam mengolah makanan...”
Teki dan Eti terpana dengan wawasan Mey yang sangat luas
sekarang, tampaknya ia sudah lulus dari jenjang SMP atau Selalu Menjadi
Pembelajar di dalam Sekolah Kehidupan. Mey kembali meneruskan
penjelasannya:
“Berikutnya adalah kecerdasan interpersonal atau cerdas
mengelola relasi dengan orang lain. Mereka yang cerdas dalam hal ini
gampang sekali berelasi dengan orang lain, baik membuka percakapan dan
membangun pertemanan. Ini penting lho dalam kecakapan menjual.
...........Setelah itu kecerdasan Intrapersonal, orang yang cerdas dalam
hal ini adalah orang yang senang memikirkan dan merenungkan diri
sendiri untuk lebih memahami diri. Selanjutnya kecerdasan alam atau
naturalistik, orang-orang ini sangat suka dengan alam dan binatang,
contohnya itu lho teman-teman yang suka hiking dan panjat gunung. Yang
terakhir kecerdasan eksistensialis, ini yang paling sulit deh untuk aku
karena orang-orang ini suka filsafat dan pemikiran-pemikiran tentang
kehidupan yang mendalam...”
“Waduh aku rasanya bukan orang yang cerdas nih Mey..., kasihan deh aku.” Eti berkata sambil memelas.
“Nanti dulu Eti coba dengarkan dulu, setiap kita
memiliki ragam kecerdasan namun tingkatannya berbeda-beda, memang ada
beberapa orang tertentu sudah memiliki bakat istimewa sejak kecil namun
bakat saja tanpa pelatihan dan pengembangan tidak akan jadi
prestasi......”
“Oh gitu ya Mey,...... nah kalau aku sendiri rasanya
kecerdasan matematikanya rendah sekali, pokoknya jeblok deh, soalnya
waktu belajar angka-angka dengan mbak Rima dan pak Winarto mumet
seharian...... yo dilatih kayak apapun rasanya tidak bisa sejajar dengan
Einstein, gimana tuh Mey...”Teki dengan kristis menjawab.
Mey yang sudah banyak membaca tentang Kecerdasan Jamak
dengan tenang menerangkan:”Pertanyaan yang bagus Teki...... oleh karena
itulah kita harus paham dengan tepat apa keberbakatan kita dan bila kita
paham maka kita dapat membangun masa depan kita berdasarkan titik-titik
terkuat hidup kita. Dan jangan merasa miskin bakat lho, aku percaya
TUHAN memberikan lebih dari cukup, kita dapat memiliki beberapa atau
banyak bakat, namun tugas kita adalah mencari, memahami dan
menumbuhkannya.”
“Hmm, seperti istilah Ekspresi Diri ya dalam salam
entrepreneur atau salam 3 jari itu...” Eti yang sudah makin paham bisa
berkomentar.
“Itu tepat sekali, menurut pak Antonius Tanan, Ekspresi
Diri itu artinya sanggup mengentrepreneurkan keberbakatan kita sehingga
sanggup mencapai Ekonomi Sejahtera...”
“Jadi penasaran nih Mey, yuk kita tebak mentor-mentor
UCEC itu punya kecerdasan apa saja ya, kalau pak Agung kan pasti cerdas
matematika, kalau pak Winarto apa ya....?”Teki mengajak dua temannya
berdiskusi.
“Rasanya cerdas logika matematika juga tuh habis ngajarnya yang pakai angka-angka ...” Sekarang Eti mulai paham.
“Kalau pak Antonius...?” Kembali Teki menantang.
“Mungkin cerdas bahasa ya, habis tulis novel dan puisi ...”Eti sekarang makin paham.
“Kalau pak Dharma...? Teki terus menantang
“Wah kalau pak Dharma orangnya gaul pisan, pasti punya
kecerdasan interpersonal...”Eti menjawab dengan percaya diri sambil
matanya terus melihat contekan definisi kecerdasan jamak di HP milik
Mey.
“Kalau mbak Rima...?” Teki kembali bertanya.
“Ini sih gampang, yang pasti mbak Rima adalah yang paling cerdas diantara para mentor UCEC...!”Eti menegaskan
“Hidup perempuan, bagaimana kau bisa tahu itu Eti..” Mey sekarang berkomentar.
“Iya dong mbak Rima pasti yang paling cerdas, bayangkan
dia satu-satunya perempuan ditengah 4 laki-laki yang lebih senior dan
dia bisa masuk dalam tim mentor UCEC, apa itu bukan hebat...” Eti dengan
cepat menjawab.
“Ha... ha.. ha.., hidup perempuan Indonesia...” Sekarang
mereka bertiga serempak tertawa dan berpelukan merayakan kehebatan
perempuan Indonesia.
“Tapi apa betul kita dapat punya lebih dari satu kecerdasan Mey...?” Teki yang masih ragu, terus berpikir bertanya lagi ke Mey.
“Ya aku percaya kita bisa punya beberapa keberbakatan
yang menonjol, misalnya para mentor dan trainer kita selain memiliki
kecerdasan-kecerdasan masing-masing pasti mereka juga memiliki
kecerdasan berbahasa, paling tidak kan mereka pandai berbicara di depan
umum dengan lancar, tapi jangan lupa ya latihan itu penting, mereka
pasti sudah terlatih...”Mey menjelaskan bak seorang guru.
“Satu pertanyaan terakhir Mey, diantara ke 9 itu mana yang paling menentukan keberhasilan...?” Teki bertanya dengan serius.
“Menurut para ahli yang paling menentukan adalah
kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal atau kecerdasan
dalam mengelola hubungan dengan orang lain dan kecerdasan mengelola diri
sendiri. Katanya sih itu yang namanya EQ atau Emotional Quotient. Dan
kabar baiknya dua kecerdasan itu adalah kecerdasan yang paling ramah
terhadap pelatihan artinya kita bisa meningkatkan kecerdasan kita dalam 2
hal tsb dengan cepat asal kita mau dan disiplin. TUHAN itu baik ya,
bagian-bagian yang paling menentukan adalah bagian yang paling lentur
untuk dibentuk. Makanya teruslah meningkatkan ketrampilan menjual karena
itu contoh kecerdasan interpersonal...” Demikian Mey menjelaskan.
“Satu pertanyaan terakhir dari aku Mey...”Sekarang Eti yang bertaya
“Silahkan, apa itu, sebisanya aku akan menjawab..”Mey menjawab kalem.
“Kapan kamu ceritakan hubungan Kecerdasan Jamak dengan
berentrepreneur di rumah majikan...?” Eti meneruskan pertanyaannya
dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
“Oh ya hampir aku lupa dengan yang paling utama..., yup sekarang aku siap” Mey segera menjawab.
(Bersambung)
Refleksi: Apa kecerdasan anak-anak Anda dan bagaimana
mereka bisa menumbuhkan keberbakatan mereka? Apa yang dapat dilakukan
oleh orang tua dan guru untuk membantu anak-anak menumbuhkan kecerdasan
intrapersonal dan interpersonal (2 kecerdasan yang memiliki pengaruh
besar untuk masa depan mereka)?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar