Sekolah Kehidupan
Eti menyampaikan kepada Mr.Lee usulan membuka restoran
lebih pagi sambil memperlihatkan foto, pertimbangan dan perhitungan yang
meyakinkan. Ketika Mr.Lee masih terkagum-kagum kembali Eti mengajukan
dua usul berikut.
“Aku mengatakan kepada Mr.Lee bahwa selama 3 hari
terakhir aku mengamati pelanggan-pelanggan yang makan siang. Aku melihat
7 dari 10 pelanggan yang melihat poster besar Lemon & Honey Tea
yang dipasang di dinding sebelah timur restoran memutuskan untuk memilih
minuman khas L-Restaurant itu. Memang sudah 5 tahun terakhir ini Lemon
& Honey Tea dari L-Restaurant menjadi salah satu minuman kebanggaan
L-Restaurant karena banyak disukai pelanggan. Harganya tentu lebih mahal
sedikit namun pelanggan tetap menyukainya.......”
“Belum nyambung nih Eti....” Mei seakan tidak sabar.
“Cerita belum selesai Mei, sabar ya...”.Teki mengingatkan Mei.
“Nah aku perhatikan ternyata poster Lemon & Honey
Tea hanya ada di dinding bagian timur kenapa tidak juga dipasang di
bagian rarat sehingga pelanggan yang duduk menghadap barat bisa
diingatkan dan mereka juga bisa memesan minuman khusus L-Restaurant. Ada
2 keuntungan. Pertama minuman itu makin laku artinya keunikan dari
L-Restauran makin dikenal. Kedua pasti Mr.Lee dapat laba lebih besar
karena memang minuman itu sudah terkenal dan harganya sedikit mahal
dibandingkan minuman lain...” Demikian Eti menjelaskan.
“Lalu bagaimana respon Mr.Lee nya Eti....?” Sekarang Teki yang melonjak rasa ingin tahunya.
Dengan penuh kebanggaan Eti menjawab:”Dia makin
garuk-garuk kepala dan mengatakan padaku kenapa ya karyawan-karyawan
restoran sendiri yang sudah kerja lebih dari 5 tahun tapi tidak melihat
hal ini....”
“Lalu apa jawabmu Eti...?” Mei kembali bertanya.
“He..he..he, aku bilang itu lho untungnya mengijinkan
aku ikut pelatihan entrepreneurship Mandiri Sahabatku, so pasti lah....,
ha,... ha... ha.” Eti menjawab sambil tergelak bangga.
“Yah betul Eti, pembelajaran entrepreneurship yang tepat
dan disambut baik oleh kita sendiri dengan sepenuh hati seharusnya
dapat mengubahkan cara pandang, cara kerja dan cara kita memandang masa
depan bukan...? Teki seakan membuat kesimpulan.
“Tapi tunggu sebentar teman-teman, itu baru ide yang ke 2 aku masih ada ide ke 3...” Eti memulai lagi percakapan.
“Wah kalau ide pertama dan kedua saja sudah membuat
Mr.Lee garuk-garuk kepala jadi rupanya gara-gara ide yang ke 3 ini
membuat Mr.Lee garuk-garuk dompetnya dan menyerahkan uang HKD untukmu ya
Eti..., ha..ha ha...” Sekarang Mei yang memberikan komentar.
“Apa, apa ide berikutnya Eti..?” Teki bertanya dengan tidak sabar.
Eti menjawab dengan kalem tapi penuh percaya diri,
berbeda sekali dengan Eti sebelumnya yang seringkali banyak diam dan
seyum-seyum saja.
“Aku mengatakan kepada Mr.Lee bahwa sudah 3 tahun
terakhir ini berdasarkan hasil penjualan, cerita para pelayan restoran
dan juga komentar pelanggan bahwa Fish Noodle Soup L-Restaurant yang
paling ngetop di Causeway Bay....”
“Ya betul majikan ku juga mengatakan seperti itu..” Mei membenarkan
“Nah sekarang yang aku pertanyakan ke Mr.Lee kenapa di
lembar menu tidak dipasang gambarnya besar-besar, kenapa tidak dibuat
posternya seperti Lemon & Honey Tea...?” Eti menceritakan bagaimana
dia memberikan sebuah pencerahan untuk Mr.Lee. Itulah 3 gagasan inovatif
yang disampaikan Eti kepada majikannya Mr.Lee. Eti bukan karyawan
restoran ia hanya seorang pengasuh anak Mr.Lee namun kepeduliaan,
perhatian dan gagasannya melampui apa yang menjadi tugasnya. Ini terjadi
karena ia sadar bahwa Mr.Lee adalah pelanggan utama dia.
“Hmmm ini sungguh kisah luar biasa Eti, selamat, selamat
ya...” Teki memberikan komentar dan kemudian Mei juga memberikan
komentar:
“Wah kita ini koq bertahun-tahun sudah kerja kenapa
tidak dari dulu ya mampu melihat dunia kerja kita dari kaca mata yang
berbeda. Kalau dipikir-pikir kita terlalu dibatasi oleh tugas
sehari-hari ya sehingga otak pemberian TUHAN tidak kita manfaatkan
sepenuhnya, aduuuuh kalau dari dulu kita paham entrepreneurship ...”
Eti juga kemudian menjawab:”Ya begitulah kebanyakan
orang hanya berpikir bahwa entrepreneurship hanya berkenaan dengan
dagang, berkenaan dengan modal dan bukan berkenaan dengan peluang,
kreativitas, inovasi dan berani mengambil risiko. Banyak orang juga
berpikir bahwa entrepreneurship baru kita lakukan nanti sesudah pulkam
(pulang kampung), nanti kalau sudah buka toko, nanti kalau sudah buka
butik, nanti kalau sudah punya kebun, itu salah. Sekarang di Hong Kong,
bukan di nanti di kampung kita, kita juga bisa praktekkan ilmunya di
rumah majikan... hmmm aku kira ini yang sangat berharga bagiku karena
aku bisa berentrepreneur tiap hari...”
“Betul... betul Eti..” Demikian Teki menguatkan pendapat Eti.
Ngomong-ngomong uang dari Mr.Lee itu mana Eti, kita bisa makan-makan dong sekarang...?” Mei menggoda Eti.
“Beres.. beres kalau soal rejeki aku sih tidak segan
berbagi kepada para sahabat Group 3 E, tapi akau ingindulu mendengar
ceritamu Mei..., sudah siapkan?
“Ya aku siap teh Eti, aku mulai sekarang ya...?”
(Bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar