Sekolah Kehidupan
Setelah Teki bercerita dengan antusias dan kemudian
berhasil mendapat hadiah dompet dari popo Wong suasana diskusi dan
cengkrama di Grup 3 E makin memanas. Eti yang mendapatkan giliran
berikutnya sudah siap bercerita dengan penuh semangat namun baru saja ia
membuka mulut tiba-tiba Teki menyela dan berkata:
“Sabar, sabar Eti, sebentar dulu ya....., apakah masih
ingat kita juga harus melakukan refleksi, bukan refleksi pijat kaki lho.
Maksudku merenungkan pengalaman kehidupan secara lebih mendalam agar
mutiara-mutiara pembelajarannya dapat kita dapatkan..”
Mei langsung merespon:”Oh itu kan Teki, aku ingat...aku
ingat, ini tentang yang kau katakan pesan dari Tie bahwa dalam Sekolah
Kehidupan ada jenjang SMP atau Selalu Menjadi Pembelajar...”
“Betul..... betul....” Teki menjawab segera kemudian
melanjutkan:”Refleksi aku sendiri dari pengalaman berentrepreneur di
rumah majikan yaitu dengan cara memecahkan masalah popo Wong secara
kreatif mengajarkan aku satu hal yang sangat penting, .... yaitu betapa
pentingnya menjadi sensitif terhadap kebutuhan dan keinginan pelanggan.
Kita harus mengenal pelanggan seperti kita mengenal orang terdekat
kita, dari ketukan langkah kakinya saja kita sudah tahu siapa keluarga
terdekat yang datang mendekat kepada kita walau kita sendiri tidak
melihatnya...”.
Eti yang mulai menyimak langsung
berpendapat:”Hau..hau... betul juga ya kalau kita tidak sensitif
terhadap kebutuhan majikan jangan-jangan merekapun hanya pikir kita ini
bisanya hanya kerja otot saja dan bukan kerja otak. Yes ..yes... yes
Teki..”
“Bank Mandiri, terdepan, terpercaya tumbuh bersama
Anda..” serempak mereka bertiga menyuarakan slogan Bank Mandiri begitu
mendengar kaya yes..yes..yes, kalimat penyemangat ini memang sudah
melekat erat karena pelatihan Mandiri Sahabatku.
Sekarang Mei giliran yang berbagi refleksi dari kisah
Teki:”Mmmm, kalau menurut aku pembelajaran yang paling berharga dari
keberhasilan Teki menangani pelanggannya yaitu popo Wong adalah
kemampuan Teki melakukan tindakan pro-aktif...”
“Aduh Mei, apa itu pro-aktif sih, jangan pakai yang susah-susah bahasanya dong..” Eti menyelak penjelasan Mei.
Teki kemudian yang menjelaskan:”Teh Eti, pro-aktif itu
dalam bahasa sehari-hari adalah jemput bola, artinya tidak menunggu
diperintah, tidak menunggu sampai diharuskan baru bertindak. Maksud
teman kita Mei walau kita ini domestic worker tapi kalau punya pola
pikir entrepreneur akan menunjukkan perilaku yang aktif menjemput bola,
artinya..... mmmm dapat berinisiatif,...... berani melakukan lebih dan
berani capek demi kepentingan pelanggan begitu lho kira-kiranya, betul
kan Mei...?
“Sip, sip A+ untuk Teki, sekarang ayo Eti apa hasil
perenunganmu setelah mendengar kisah Teki membuat popo Wong tidak
sanggup bilang tidak...”. Sekarang Mei memberi semangat pada Eti.
Eti yang tampaknya banyak diam ternyata ia banyak
menyimak dan kemudian ia berkata dengan tenang sambil keningnya berkerut
menunjukkan masih terus berpikir: ”Adalah penting sekali untuk selalu
kita ingat walau status kita sekarang masih karyawan, namun pola pikir
dan cara kerja kita harus seperti entrepreneur yang sedang berusaha
memuaskan pelanggan tiap hari......, hmmm rasanya ada yang kurang nih”.
“Kurang asin.... teh Eti” Teki menggoda
“Ah kalau untuk teh Eti pasti kurang sambal... he ... he”Mei juga ikut bercanda.
“Kalian ada-ada saja, bukan itu.., nah.. nah, ketemu
nih, maksudku memuaskan pelanggan atau majikan kita bukan hanya dengan
melaksanakan tugas secara cepat dan tepat,... itu ngga cukup, semua
pembantu yang lain juga melakukan yang sama. Kita harus beda dong, kita
adalah domestic worker dengan semangat entrepreneur jadi kita harus
ber-inovasi, ... kita harus memberikan sentuhan kreativitas dan
inovasi...., ya .. ya... ya... ini kesimpulanku, kita harus bekerja
dengan sentuhan kreativitas dan inovasi dan kita buat para
majikan kita tercengang jika perlu bengong seperti orang bego... karena
terkaget-kaget menyaksikan inovasi kita dalam bekerja”
“Ha...ha... ha...ha...”Mereka bertiga sekarang tertawa lepas
“Asal bukan termehek-mehek ya teman-teman...” Teki kemudian menutup tawa lepas mereka.
Eti yang sudah makin berani dan kreatif tiba-tiba menyampaikan sebuah gagasan yang sangat bagus:
“Teman-teman rasanya kurang lengkap ya kalau pengalaman
berharga ini tidak kita bagikan juga ke teman-teman di Mandiri
Sahabatku, bagaimana kalau kisah Teki melakukan intrapreneur ini kita
posting di FB Mandiri Sahabatku dan minta komentar mereka, apa gagasan
para Sahabat Mandiri tentang seorang BMI yang berentrepreneur di rumah
majikan, apa ciri-ciri mereka, apa saja hal berbeda yang mereka
lakukan..”
“Setuju... setuju....., kita minta pak Antonius Tanan
kumpulkan pendapat teman-teman kita dan barangkali saja ini jadi bahan
dari novel entrepreneurship yang berikutnya...”Demikian Mei langsung
menjawab sedangkan Teki hanya manggut-manggut saja.
“Tunggu-tunggu, ada satu hal lain yang tidak boleh kita
lupa, setelah ini Eti harus ceritakan kepada kita semua bagaimana dia
berinovasi dan berentrepreneur di rumah Mr.Lee sehingga dia mendaptkan
bonus...” Teki mengingatkan teman-temannya.
“So paaaasti..” Eti menjawab dengan tangkas dan memang
ia sudah sangat siap menceritakan pengalaman pribadi menerapkan
entrepreneurship di rumah majikan.
(Bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar