Jumat, 26 Oktober 2012

SEKOLAH KEHIDUPAN Bagian 7

Sekolah Kehidupan
Bagian 7: Refleksi sebagai proses Pembelajaran



Setelah Teki bercerita dengan antusias dan kemudian berhasil mendapat hadiah dompet dari popo Wong suasana diskusi dan cengkrama di Grup 3 E makin memanas. Eti yang mendapatkan giliran berikutnya sudah siap bercerita dengan penuh semangat namun baru saja ia membuka mulut tiba-tiba Teki menyela dan berkata:
“Sabar, sabar Eti, sebentar dulu ya....., apakah masih ingat kita juga harus melakukan refleksi, bukan refleksi pijat kaki lho. Maksudku merenungkan pengalaman kehidupan secara lebih mendalam agar mutiara-mutiara pembelajarannya dapat kita dapatkan..”
Mei langsung merespon:”Oh itu kan Teki, aku ingat...aku ingat, ini tentang yang kau katakan pesan dari Tie bahwa dalam Sekolah Kehidupan ada jenjang SMP atau Selalu Menjadi Pembelajar...”
“Betul..... betul....” Teki menjawab segera kemudian melanjutkan:”Refleksi aku sendiri dari pengalaman berentrepreneur di rumah majikan yaitu dengan cara memecahkan masalah popo Wong secara kreatif mengajarkan aku satu hal yang sangat penting, .... yaitu betapa pentingnya menjadi sensitif terhadap kebutuhan dan keinginan pelanggan. Kita harus mengenal pelanggan seperti kita mengenal orang terdekat kita, dari ketukan langkah kakinya saja kita sudah tahu siapa keluarga terdekat yang datang mendekat kepada kita walau kita sendiri tidak melihatnya...”.
Eti yang mulai menyimak langsung berpendapat:”Hau..hau... betul juga ya kalau kita tidak sensitif terhadap kebutuhan majikan jangan-jangan merekapun hanya pikir kita ini bisanya hanya kerja otot saja dan bukan kerja otak. Yes ..yes... yes Teki..”
“Bank Mandiri, terdepan, terpercaya tumbuh bersama Anda..” serempak mereka bertiga menyuarakan slogan Bank Mandiri begitu mendengar kaya yes..yes..yes, kalimat penyemangat ini memang sudah melekat erat karena pelatihan Mandiri Sahabatku.   
Sekarang Mei giliran yang berbagi refleksi dari kisah Teki:”Mmmm, kalau menurut aku pembelajaran yang paling berharga dari keberhasilan Teki menangani pelanggannya yaitu popo Wong adalah kemampuan Teki melakukan tindakan pro-aktif...”
“Aduh Mei, apa itu pro-aktif sih, jangan pakai yang susah-susah bahasanya dong..” Eti menyelak penjelasan Mei.
Teki kemudian yang menjelaskan:”Teh Eti, pro-aktif itu dalam bahasa sehari-hari adalah jemput bola, artinya tidak menunggu diperintah, tidak menunggu sampai diharuskan baru bertindak. Maksud teman kita Mei walau kita ini domestic worker tapi kalau punya pola pikir entrepreneur akan menunjukkan perilaku yang aktif menjemput bola, artinya..... mmmm dapat berinisiatif,...... berani melakukan lebih dan berani capek demi kepentingan pelanggan begitu lho kira-kiranya, betul kan Mei...?
“Sip, sip A+ untuk Teki, sekarang ayo Eti apa hasil perenunganmu setelah mendengar kisah Teki membuat popo Wong tidak sanggup bilang tidak...”. Sekarang Mei memberi semangat pada Eti.
Eti yang tampaknya banyak diam ternyata ia banyak menyimak dan kemudian ia berkata dengan tenang sambil keningnya berkerut menunjukkan masih terus berpikir: ”Adalah penting sekali untuk selalu kita ingat walau status kita sekarang masih karyawan,  namun pola pikir dan cara kerja kita harus seperti entrepreneur yang sedang berusaha memuaskan pelanggan tiap hari......, hmmm rasanya ada yang kurang nih”.
“Kurang asin.... teh Eti” Teki menggoda
“Ah kalau untuk teh Eti pasti kurang sambal... he ... he”Mei juga ikut bercanda.
“Kalian ada-ada saja, bukan itu.., nah.. nah, ketemu nih, maksudku memuaskan pelanggan atau majikan kita bukan hanya dengan melaksanakan tugas secara cepat dan tepat,... itu ngga cukup, semua pembantu yang lain juga melakukan yang sama.  Kita harus beda dong, kita adalah domestic worker dengan semangat entrepreneur jadi kita harus ber-inovasi, ... kita harus memberikan sentuhan kreativitas dan inovasi...., ya .. ya... ya... ini kesimpulanku, kita harus bekerja dengan sentuhan kreativitas dan inovasi dan kita buat para majikan kita tercengang  jika perlu bengong seperti orang bego... karena terkaget-kaget menyaksikan inovasi kita dalam bekerja”
“Ha...ha... ha...ha...”Mereka bertiga sekarang tertawa lepas
“Asal bukan termehek-mehek ya teman-teman...” Teki kemudian menutup tawa lepas mereka.
Eti yang sudah makin berani dan kreatif tiba-tiba menyampaikan sebuah gagasan yang sangat bagus:
“Teman-teman rasanya kurang lengkap ya kalau pengalaman berharga ini tidak kita bagikan juga ke teman-teman di Mandiri Sahabatku, bagaimana kalau kisah Teki melakukan intrapreneur ini kita posting di FB Mandiri Sahabatku dan minta komentar mereka, apa gagasan para Sahabat Mandiri tentang seorang BMI yang berentrepreneur di rumah majikan, apa ciri-ciri mereka, apa saja hal berbeda yang mereka lakukan..”
“Setuju... setuju....., kita minta pak Antonius Tanan kumpulkan pendapat teman-teman kita dan barangkali saja ini jadi bahan dari novel entrepreneurship yang berikutnya...”Demikian Mei langsung menjawab sedangkan Teki hanya manggut-manggut saja.
“Tunggu-tunggu, ada satu hal lain yang tidak boleh kita lupa, setelah ini Eti harus ceritakan kepada kita semua bagaimana dia berinovasi dan berentrepreneur di rumah Mr.Lee sehingga dia mendaptkan bonus...” Teki mengingatkan teman-temannya.
“So paaaasti..” Eti menjawab dengan tangkas dan memang ia sudah sangat siap menceritakan pengalaman pribadi menerapkan entrepreneurship di rumah majikan.
(Bersambung)
Teman-teman silahkan berbagi di FB ini apa pendapat teman-teman tentang ciri dan perilaku BMI yang memiliki jiwa entrepreneur ketika mereka bekerja di rumah majikan. Apa yang membedakan mereka dengan domestic worker lain yang tidak memiliki pola pikir dan jiwa entrepreneur..?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar