Selasa, 13 November 2012

Mau sukses? Ambil resiko! (4/6)





Tak terasa saya telah selesai membaca bab pertama dan mulai membuka lembaran berikutnya, bab 2 dengan judul "Berani Mengambil Resiko". Ada sebuah gambar satu halaman penuh, pemandangan tebing di tepi laut dengan kutipan dari T. S. Eliot, "Hanya orang-orang yang mau mengambil resiko sajalah yang akan mengetahui bagaimana cara mengembangkan dirinya." Saya cari lewat google bahasa Inggrisnya, "Only those who will risk going too far can possibly find out how far one can go." Membaca kutipan dalam bahasa Inggrisnya membuat saya lebih memahami. Ada kata kunci penting yang hilang dalam terjemahannya, yaitu "going too far". Semua orang pasti menjalani resiko dalam hidupnya. Tapi sejauh mana kita berani menempuh resiko, itu akan menentukan sejauh mana kita akan pergi. Contoh gampangnya, orang yang takut pergi terlebih takut naik pesawat, juga akan tidak jauh-jauh perginya.



Ada sebuah perasaan dalam diri yang membuat kita selalu berusaha berhati-hati agar tidak kehilangan milik kita yang berharga. Tapi sikap hati-hati ini bisa meningkat menjadi kecemasan dan ketakutan. Hidup pada dasarnya tidak lebih dari tahapan-tahapan tak terbatas yang muncul melalui berbagai kesempatan yang memiliki tingkat resiko yang berbeda-beda. Di manapun kita berada, resiko yang mengancam diri kita selalu ada. Entah di rumah sekalipun tetap ada resiko keruntuhan bangunan jika terjadi gempa bumi, bepergian entah naik bus, kereta ataupun pesawat, juga ada resiko kecelakaan. Bahkan jalan kakipun di trotoar bisa celaka jika ada pengemudi mobil yang mengemudi dalam keadaan mabuk. Tapi kalau kita tidak berani menjalani resiko itu, kita tidak akan pernah pergi dan dengan demikian, kita juga tidak akan pernah sampai ke tujuan. Lebih buruk lagi, karena terlalu khawatir kehilangan miliknya yang berharga, yakni kehidupannya, ada yang tak berani bermimpi besar dan merasa puas dengan apa yang ada.

Senin, 12 November 2012

SHARING DARI MAS ERIC YOSUA YG SANGAT MENGINSPIRASI

Halo Teman-teman, apa kabar?
sesuai janji saya menceritakan tentang event yang Mahasiswa IHTB UC kerjakan bagi Kota Surabaya.

Di IHTB UC, kita tiap tahun membuat event untuk anak-anak semester 1. Tahun 2011 kita membuat event Chinese Culture Festival dengan 2 dosen (Saya dan rekan). Tahun ini, waktu saya libur lebaran, saya dan keluarga tidak kemana-mana, sehingga di tengah waktu luang itu, saya mendapat ide untuk membuat pameran tentang pariwisata se-Surabaya.

Untuk memulai event ini, kita hanya punya modal start 700 ribuan (hasil uang sisa untuk games waktu camping jurusan)

Nah disinilah proses entrepreneurship dimulai:
Saya mencari dukungan kepada internal jurusan dan setelah saya menyampaikan ide, saya mendapatkan dukungan, maka acc pertama sudah terlewati,

Melalui kepala jurusan Saya, beliau membantu mencari dukungan dari Dinas Pariwisata Kota Surabaya dan kita mendapatkan dukungan berupa keikutsertaan obyek-obyek pariwisata se-Surabaya (yang berminat) dengan FREE stand.

Selanjutnya Saya mencoba melobi pemilik tempat pameran, yaitu Tunjungan Plaza (Pakuwon Group), ada kecemasan tersendiri ketika saya melobby mereka, yaitu kita sama-sama dari grup property, yaitu Ciputra dan Pakuwon. Tapi setelah meyakinkan mereka akan gagasan kita, mereka mau memberikan keringanan biaya venue dari harga 150 juta menjadi 33 juta.

Minggu, 11 November 2012

Mau sukses? Ambil resiko! (3/6)


Asyiknya membaca buku "Always on Top" ini terutama karena cara penulis menyampaikannya dengan sederhana namun  sangat mengena. Masih di bab 1, bicara soal pentingnya kesuksesan, menurut Spencer, untuk meraih kesuksesan kita harus menerangkan dengan sejelas-jelasnya apa yang ingin kita raih. Lalu, kita harus bisa merencanakan dan menjalankan semua langkah yang ada dalam rencana tersebut. Kesuksesan mengajarkan kepada kita bagaimana membuat keputusan yang tidak terlalu kuno sekaligus tidak terlalu riskan. Nah, di sini kita akan membahas soal bagaimana mengambil resiko. Resiko itu merupakan suatu hal yang penting, sebab tanpa adanya resiko, tidak akan ada perubahan dalam hidup Anda.

Spencer dengan tegas menyatakan bahwa jika Anda selalu berada di zona nyaman, maka bakat yang Anda miliki akan sia-sia, membuat hidup Anda tidak berarti dan menyulitkan diri Anda sendiri. Sukses menegaskan kepada Anda bahwa Anda sendirilah yang bertanggung jawab akan sukses atau tidaknya diri Anda. Spencer kemudian menceritakan pengalamannya ketika berusia 18 tahun, ketika ditanya oleh pelatihnya, apakah ia membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan latihan olah raga yang berat. Spencer lantas menjawab, "Ya." Pada saat itu, pelatihnya memandanginya dengan tatapan kosong dan kemudian meninggalkannya. Pada saat itulah Spencer menyadari bahwa pelatih memberi petunjuk yang benar. Diri kita sendirinya yang seharusnya mengetahui jawaban atas pertanyaan kita sendiri. Intinya, jangan menjadi tergantung pada pelatih, kita harus bisa menjadi penentu hidup kita.

Membuat rencana perlu tapi kita juga harus bisa beradaptasi dalam meraih impian kita. Jangan kaku dengan rencana yang kita buat. Kita seringkali dipaksa untuk mengubah rencana sesuai dengan keadaan yang ada. Saya pernah membaca buku yang berjudul "The Adventures of Johnny Bunko: the Last Career Guide You'll Ever Need", karya Daniel H. Pink, di bagian awal bukunya ditulis: "There is No Plan". Jika tertarik bisa lihat ringkasannya di http://thoughtport.blogspot.com/2009/01/six-lessons-of-johnny-bunko.html

Mau sukses? Ambil resiko! (2/6)


Dr. Jeffrey Spencer membahas di bab pertama tentang "Mengapa Sukses itu Penting?". Kita semua ingin sukses tapi sering kita tidak menyadarinya, bahwa sukses ternyata penting bagi kehidupan. Bab ini membawa kita lebih jelas tentang perlunya sebuah kesuksesan bagi diri kita.

"Bisakah saya menjadi sukses?" Pertanyaan itu sering dikemukakan di saat-saat tertentu. Jawaban yang paling umum adalah, "Ya, Anda tentu bisa sukses." Keinginan untuk menjadi sukses tidak bisa ditolak, karena merupakan insting dasar manusia yang mempengaruhi satu manusia dengan yang lain melalui pemikiran dan tindakan. Tiap orang mendefinisikan kesuksesan dengan cara yang berbeda-beda. Seperti dijelaskan oleh Spencer dalam buku "Always on Top" ini, kita semua dibekali kemampuan dan kendali untuk sukses. Masalahnya, kita tidak pernah mempelajari sehingga kita seakan tidak percaya pada diri sendiri bahwa kita memiliki kemampuan untuk meraih mimpi kita.

Nah, sukses bukanlah sesuatu yang dengan mudah bisa dikuasai oleh semua orang. Orang yang sukses tidak malu atau merasa bersalah atas segala hal yang mereka lakukan untuk meraih kesuksesan. Persoalannya, ada banyak orang yang mudah merasa malu kalau gagal, malu kalau ditolak atau bersalah jika tidak berhasil. Menjadi seorang yang sukses secara konsisten mudah dalam konsepnya, yakni: Hanya dibutuhkan penyelesaian yang tepat waktu atas tugas-tugas tertentu di dalam sebuah rencana yang dirancang dengan baik yang mencapai hasil yang telah ditentukan. Apa maksudnya dengan pernyataan dari Dr. Jeffrey Spencer ini?

Satu atau dua buah kesuksesan tidak serta merta menjadikan seseorang disebut sukses. Sukses adalah ketrampilan yang dilatih dengan rajin, yang kemudian menjadi suatu yang alami secara konsisten menghasilkan apa yang diinginkan dengan menciptakan kehidupan yang produktif, berguna dan bergairah. Sukses itu penting bagi semua orang yang menginginkan hidup yang sangat bersemangat, bergairah dan memuaskan. Saya kemudian berpikir lagi, kalau kita hidup hanya ikut arus, atau just follow the flow, kita tidak akan pernah mengalami kesuksesan. Untuk memperoleh hasil yang sukses, seseorang harus memiliki kepercayaan diri untuk bisa sukses.

Mau sukses? Ambil resiko! (1/6)



Seperti biasa, untuk mengisi waktu perjalanan, saya membawa sebuah buku. Kali ini buku yang saya ambil dari rak buku berjudul "Always On Top: Prinsip-prinsip mengagumkan agar selalu bahagia di segala aspek kehidupan Anda." Judul asli buku ini dalam bahasa Inggris adalah "Turn It Up!: How to Perform at Your Highest Level for a Lifetime" ditulis oleh Dr. Jeffrey Spencer. Semula saya mengira buku ini biasa-biasa saja seperti kebanyakan buku-buku tentang bagaimana menjadi bahagia. Namun ketika memulai membaca pendahuluannya, saya menemukan banyak hal menarik. Langsung saya ambil bolpoin dan membuat coret-coret di buku, menggaris bawahi kalimat yang menurut saya penting. Perjalanan di atas bus yang bergoyang membuat garis yang saya buat tidak bisa rapi, tapi kalau tidak begitu, nanti saya lupa bagian mana yang penting tadi.