Tak terasa saya telah selesai membaca bab pertama dan mulai membuka lembaran berikutnya, bab 2 dengan judul "Berani Mengambil Resiko". Ada sebuah gambar satu halaman penuh, pemandangan tebing di tepi laut dengan kutipan dari T. S. Eliot, "Hanya orang-orang yang mau mengambil resiko sajalah yang akan mengetahui bagaimana cara mengembangkan dirinya." Saya cari lewat google bahasa Inggrisnya, "Only those who will risk going too far can possibly find out how far one can go." Membaca kutipan dalam bahasa Inggrisnya membuat saya lebih memahami. Ada kata kunci penting yang hilang dalam terjemahannya, yaitu "going too far". Semua orang pasti menjalani resiko dalam hidupnya. Tapi sejauh mana kita berani menempuh resiko, itu akan menentukan sejauh mana kita akan pergi. Contoh gampangnya, orang yang takut pergi terlebih takut naik pesawat, juga akan tidak jauh-jauh perginya.
Ada sebuah perasaan dalam diri yang membuat kita selalu berusaha berhati-hati agar tidak kehilangan milik kita yang berharga. Tapi sikap hati-hati ini bisa meningkat menjadi kecemasan dan ketakutan. Hidup pada dasarnya tidak lebih dari tahapan-tahapan tak terbatas yang muncul melalui berbagai kesempatan yang memiliki tingkat resiko yang berbeda-beda. Di manapun kita berada, resiko yang mengancam diri kita selalu ada. Entah di rumah sekalipun tetap ada resiko keruntuhan bangunan jika terjadi gempa bumi, bepergian entah naik bus, kereta ataupun pesawat, juga ada resiko kecelakaan. Bahkan jalan kakipun di trotoar bisa celaka jika ada pengemudi mobil yang mengemudi dalam keadaan mabuk. Tapi kalau kita tidak berani menjalani resiko itu, kita tidak akan pernah pergi dan dengan demikian, kita juga tidak akan pernah sampai ke tujuan. Lebih buruk lagi, karena terlalu khawatir kehilangan miliknya yang berharga, yakni kehidupannya, ada yang tak berani bermimpi besar dan merasa puas dengan apa yang ada.





