Sekolah Kehidupan
Hari Minggu, hari libur tiba kembali Grup 3 E sudah
saling berjanji bertemu di posko diskusi mereka di sebuah pojok Victoria
Park yang tidak terlalu ramai. Disanalah mereka saling bertemu lagi
masing-masing sudah membawa kisah seru mereka tentang mempraktekkan
keentrepreneuran di rumah majikan masing-masing. Baik Teki, Eti maupun
Mei yakin bahwa cerita mereka akan jadi cerita yang paling seru dan
sudah mengimpikan ditraktir oleh rekan-rekan mereka.
“Siapa yang akan mulai cerita duluan..? Teki membuka diskusi mereka.
“Aku...” Eti langsung menyambar
“Aku siap...” Mei juga berteriak di waktu yang sama.
“Aku juga sangat siap..” Teki berkata menambah seru.
“Wah memang kita sudah jadi orang berbeda ya, tidak takut untuk omong dan beri pendapat....”Teki terseyum kepada teman-temannya.
“Yah, hom pim pa aja deh...., kalau begini ceritanya....”Eti menawarkan solusi.
“Setuju..... setuju...... setuju” Mei dan Teki berkata hampir bersamaan.
Undian hasil hom pim pa jatuh ke tangan Teki sehingga Teki menjadi yang pertama bercerita.
“ Seperti kalian tahu aku kan melayani popo Wong, aku
sudah 4 tahun dengan dia. Umurnya sudah 75 tahun namun masih sangat
aktif. Membaca buku, ikut paduan suara, tai-chi, jalan-jalan bersama
teman-teman dan ada satu kegiatan yang paling favorit yaitu Thursday
Lunch dengan 4 teman masa SMA mereka. Sudah 15 tahun 5 nenek yang pernah
di satu SMA itu rutin bertemu tiap Kamis siang. Inilah sahabat-sahabat
terdekat popo Wong dan mereka menyebut diri sebagai 5 Angsa Cantik.
....”
“He... he...he.., neli (nenek lincah) juga ya popo Wong itu..” Mei menyela.
“Ssst...sst, jangan menyelak dong Mei, ayo teruskan Teki..” Eti mengingatkan.
Teki kemudian melanjutkan ceritanya: “Minggu lalu, popo
pulang dari kegiatan Senior Club dengan muka murung sekali. Waktu aku
tanya dia mengatakan bahwa di Club ada pemeriksaan darah gratis sehingga
ia ikut dan ia sangat sedih begitu tahu hasil nilai Kolesterolnya
mencapai angka 285. Ini sudah warning lho kata dia dan yang paling sedih
adalah dia khawatir tidak bisa ikut lagi makan enak tiap Kamis dengan
kelompok 5 Angsa Cantik. Hari Kamis untuk popo begitu penting dan selalu
dinanti-nantikan dan kalau 5 nenek ini ngerumpi bisa sampai 3 jam
berada di restoran. ....”
“Ini mah tidak ada kaitan dengan entrepreneur Teki, ini soal dokter bukan soal bisnis..”Teh Eti tiba-tiba menyela.
“Nanti-nanti dulu, jangan pesimis dulu dong Eti, cerita
belum selesai aku selesaikan dulu nih...”.Teki menjawab dan kemudian
meneruskan cerita:
“Teman-teman masih ingat kan di pembelajaran kelas
Dasar hari terakhir pertama kita belajar dengan pak Agung bahwa masalah
adalah sumber peluang kemudian Pak Antonius cerita tentang kepanjangan
dari “iso” yang dalam bahasa Jawa artinya bisa...?”
“Kayaknya itu lho yang ada hubungan dengan inovasi..” Mei menjawab.
“Ya betul iso itu INOVASI kanggo SOLUSI, maksudnya
supaya kita selalu mengingat untuk menciptakan solusi yang inovatif....,
nah waktu popo punya masalah sangat berat buat dia aku jadi teringat
bahwa masalah adalah sumber peluang dan untuk mampu memanfaatkan peluang
kita harus bisa berinovasi sehingga dapat menghasilkan solusi yang tak
dapat ditolak pelanggan, iya kan teman-teman, masih ingat...? Teki makin
bersemangat bercerita dan pembicaraan selanjutnya adalah bagaimana Teki
menciptakan solusi inovatif untuk popo Wong. Sebuah tawaran solusi yang
langsung “dibeli” dan tak dapat ditolak oleh popo Wong. Teki juga
mengingatkan teman-temannya bahwa ilmu entrepreneurship adalah ilmu
memecahkan masalah secara kreatif dan itu bisa dipraktekkan di tempat
pekerjaan sekarang. Nah sekarang apa solusi inovatif dari Teki untuk
popo Wong?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar