NOW you can learn to be entrepreneur!
CURY si Hiu Kolam jadi Hiu LAUTAN
Kisah Inspirasi ENTREPRENEURSHIP
|
Antonius Tanan
Bacaan untuk Usia 10 sd 100 tahun
BACAAN UNTUK USIA 10 S/D 100 TAHUN
-----------------------------------------------------------------
Bab 5
Tsunami
Hingga
suatu hari, di saat keadalam kolam tenang dan deburan ombak lembut
terdengar, para hiu kolam tidak menyadari kalau sesuatu yang dahsyat dan
ganas datang dari keteduhan dan kelembutan alunan gelombang laut. Suara
gemuruh dari dasar laut terdengar, tanpa di duga-duga, jeruji besi yang
membatasi kolam dengan lautan lepas terangkat ke atas. Kemudian, arus
bawah laut berputar-putar bagai gasing, lalu semuanya kacau balau.
Gelombang pasang yang disebut tsunami membabat semua yang ada, termasuk
jeruji besi yang membentengi hiu kolam.
Air
laut menggelegak, mengaduk-ngaduk kolam, ikan-ikan hiu yang diam di
dalamnya panik, mereka terceraiberai, mereka terseret arus ganas yang
datang dengan tiba-tiba. Mereka terhempas ke lautan luas, anak-anak hiu
terpisah dari induknya, dan para tetua hiu terhempas ke ujung samudra
dalam keadaan lemah tak bertenaga akibat kegemukan. Tak ada seekor hiu
pun yang tersisa di dalam kolam. Kolam sudah menyatu dengan laut.
Cury
dengan cekatan berenang mencari ayah dan ibunya. Dalam pekatnya air
laut, mata dan hidungnya yang tajam mencoba membaui seluruh areal
lautan. Ia menyeruduk ke setiap tempat-tempat tersembunyi, mencari
kalau-kalau kedua orangtuanya tersesat atau tertahan batu karang. Di
tengah kemelutnya suasana, Cury mendengar suara isakan kecil. Ia segera
meluncur ke arah suara itu. Di sana, di sudut sebuah rongsokan kapal
yang karam selama ratusan tahun, ia melihat ibu, ayah, Cute, Jackal dan
beberapa hiu tengah bersembunyi, mereka sangat ketakutan. Cury segera
menghampiri mereka.
“Jangan
cemas, mereka sudah dijaga oleh murid-muridku. Nanti aku akan
mengajarkan mereka bagaimana caranya bertahan hidup di situasi seperti
ini!” Hiu Mentor muncul dari celah-celah batu karang. Rupanya, sosok
dialah yang membuat ayah, ibu Cury serta beberapa hiu ketakutan.
Cury
tampak gembira. Ketika ia berenang kesana dan kemari dengan lincahnya
dan beberapa hiu lautan menyapa dirinya dengan hormat, ayah dan ibunya
tampak bingung, hiu-hiu kolam yang ada di situ juga terbengong-bengong.
“Nak,
kamu kenal dengan mereka? Lalu, hiu yang bicara tadi siapa? Di mana
kamu bertemu dengannya?” berondong ayahnya dengan pertanyaan beruntun.
Kali
ini Cury tidak bisa mengelak lagi. Lalu dengan penuh permohonan maaf ia
menceritakan segala sepak terjangnya. “Ini guruku, Ayah. Namanya Hiu
Mentor. Dialah yang mengajariku tentang beragam hal, dia mengajari aku
bagaimana bisa bertahan di laut luas. Maafkan aku Yah, karena aku
sering sembunyi-sembunyi keluar dari jeruji besi di kolam tempat tinggal
kita.”
Ibu Cury hanya tersenyum lega dan mengerti namun ayah
tidak bisa berkata apa-apa lagi, kini ia melihat sendiri bagaimana
pandainya Cury berenang menjelajahi sudut demi sudut lautan yang maha
luas itu. Hiu mentor kemudian menjelaskan
“Perlu
saya tambahkan, saya membimbing Cury karena saya lihat ia hiu yang
tangkas, gesit, kreatif dan inovatif. Dia selalu ingin tahu keadaan di
luar dari kolam. Saya melihat dalam diri Cury ada jiwa entrepreneur,
jiwa untuk berusaha. Melalui kreativitasnya, ia menginginkan suatu
perubahan. “Lalu, kalau kami diserang mahluk jahat, apa yang harus kami
lakukan? Kami tidak memiliki ilmu untuk mempertahankan diri.” Ujar ayah
Cury.
“Awalnya
Cury pun demikian. Namun setelah berbulan-bulan berada di lautan luas,
secara otomatis ia bisa bertahan dan mempertahankan dirinya dari
serangan bahaya. Kalian jangan takut, dengan keberanian yang kalian
miliki, aku rasa kalian pasti mampu bertahan!” Hiu mentor memberikan semangat.
“Iya,
ngomong saja sih enak. Kami bisa dipastikan baru dua kali ini berada di
laut lepas. Seperti tutur para tetua kami, dunia di laut lepas itu
sangat berbahaya, tidak ada ketrentaman. Di lautan luas berlaku hukum
rimba. Jika mahluk-mahluk jahat menyerang kami, apa yang harus kami
lakukan?” Kata seekor hiu sembari menggoyang-goyangkan ekornya.
“Tentu
saja kalian harus berusaha belajar bagaimana cara bertahan. Kalian
perhatikan Cury, awalnya dia juga takut dan bertanya apakah dirinya
dapat hidup di laut lepas? Ternyata, setelah dia terjun langsung dan
berani mengambil resiko, dia bisa bertahan hingga kini. Malah dia
dihormati hiu-hiu muda lainnya yang ada di sini.” Hiu Mentor berkata sambil menunjuk Cury.
“Ayolah,
keluarkan kemampuan kalian. Jangan pesimis dan cemas dulu!” Hiu Mentor
memberi semangat. “Mengenai teman-teman kalian yang hilang, jangan
takut, murid-muridku akan mencari mereka. Cury juga akan ikut serta. Dia
sangat piawai berenang dan menyelusup ke tempat-tempat yang paling
rawan sekalipun!”
“Jangan, jangan suruh Cury mencari mereka, nanti dia diterkam ikan bermulut runcing, seruncing anak panah!” potong ayah Cury.
“Ha…ha…ha…ayah
jangan cemas, Cury yang dulu berbeda dengan Cury yang sekarang.
Beberapa hari yang lalu ia berhasil mengalahkan raja ikan bermulut
runcing. Sekarang malah rajanya yang takut dengan Cury. Mereka sangat
hormat padanya. Percayalah, Cury sangat disegani di sini. Saya akan membuat dia menjadi pemimpin di lautan luas.” Hiu Mentor berusaha meyakinkan.
Ayah Cury diam, ia termangu. Dalam hati ia bertanya, “benarkah seperti yang dikataknnya? Benarkah putraku telah menjadi seekor hiu lautan yang hebat di lautan luas ini?”
“Saya tahu teman-teman hiu kolam sangsi dengan ucapan saya. Jikakalian tidak percaya, kalian bisa ikut Cury menjelajahi lautan luas ini. Nanti dia akan mengajari kalian bagaimana mencari makanan di sini. Ingat teman-teman hiu kolam, Tsunami telah memaksa kalian harus bisa menghidupi diri sendiri.”
“Lho, bukankah kita akan kembali ke kolam?” tanya seekor hiu berbadan gemuk.
“Murid-muridku
sudah menyelidiki keadaan kolam. Ternyata kolam sudah porak poranda.
Jeruji-jeruji besi hilang entah kemana. Tidak ada lagi batas antara
kolam dengan lautan luas.” Ujar Hiu Mentor.
“Lalu, di mana kita bisa menetap?” Seekor hiu lainnya bertanya. Wajahnya tampak kebingungan.
“Tentu
saja di lautan ini. Masak kalian harus hidup di darat!” seekor hiu
lautan nyeletuk, ia tampak kesal dengan hiu kolam yang pencemas itu.
“Hus,
kamu jangan kasar, wajar dia bertanya demikian. Ia sejak lahir sudah
berada di kolam yang nyaman dan penuh dengan makanan. Jadi, di saat
menghadapi keadaan seperti ini, dia jadi ketakutan.” Sergah Hiu Mentor.
“Sudah,
kamu jangan cemas. Nanti aku akan mengajakmu berburu makanan. Di sini
banyak makanan yang bisa kamu lahap, jenisnya beragam, tidak seperti
saat kita berada di kolam, makanannya itu-itu saja.” Sekarang Cury mulai berbicara.
Ayah Curi dan kelompok hiu kolam tidak
memberi respon lagi. Mereka mulai mengerti kalau apa yang dikatakan
putera mereka benar. Hiu-hiu yang lain pun demikian. Mereka sudah tidak
punya pilihan lagi. Kembali ke kolam merupakan pekerjaan sia-sia, sebab
kolam sudah menyatu dengan lautan luas. Kini mereka harus belajar dari
awal, berlajar bagaimana mencari makanan untuk mengisi perut mereka yang
lapar.
Tsunami
telah menghancurkan Pulau Dua Ribu. Hampir semua kolam ikan, pusat
rekreasi, pusat permainan dan resort-resort yang ada di sekitar pantai
habis tergulung ombak. Luapan air laut yang menjulang tinggi membuat apa
yang ada di pulau itu lenyap tersapu ombak. Pak Harno pemilik pulau itu
untuk sementara menutup pulaunya. Kini bersama para tenaga ahlinya di
bidang perumahan, mereka tengah merancang tempat rekreasi yang tahan
terhadap serangan tsunami. Untuk sementara tepian laut tempat ikan-ikan
hiu itu dipelihara, ditanami pohon-pohon bakau sebagai penangkal
serangan ombak yang tajam dan ganas.
Pelatihan untuk Hiu Kolam
Hiu-hiu
kolam yang terpisah dari sanak saudara dan orangtua mereka, akhirnya
bisa ditemukan oleh para hiu lautan binaan Hiu Mentor. Dibantu hiu
lautan dan Cury, mereka mengajari hiu-hiu kolam bagaimana caranya agar
bisa menghidupi diri sendiri. Mereka diajari berburu mangsa, menyelusuri
tiap sudut lautan luas, dan menghindar serta menyelamatkan diri jika
musuh menyerang.
“Di lautan, musuh yang paling ditakuti adalah manusia.” Tutur Hiu Mentor usai mereka mencari makanan untuk hari itu.
“Mengapa manusia?” tanya Cute.
“Manusia
lebih cerdik dari binatang apapun yang ada di dunia ini. Melalui
akalnya dia bisa membinasakan seluruh penghuni lautan. Dia bisa menciptakan
bom beracun di dasar laut. Jika bom itu meledak, maka kita-kita para
ikan yang menghirupnya akan lemas lalu mati. Tatkala kita sudah tak
berdaya, di situlah mereka akan mengambil tubuh kita, segala yang ada di
badan kita akan mereka manfaatkan untuk obat-obatan dan makanan.
Manusia bisa menciptakan kapal selam untuk menangkap ikan yang canggih.” Jelas Hiu Mentor.
“Apakah kita tidak bisa melawa manusia?” tanya Cute.
“Pada
beberapa kesempatan, kita bisa melawannya. Namun, di kesempatan lain,
dia akan balik menyerang dan menghancurkan kita dengan teknologi yang
mereka Harnokan.”
“Lalu, apa yang harus kita lakukan agar terhindar dari serangan manusia? “
“Di
situlah pentingnya kreativitas dan inovasi. Kita bersama-sama harus
memikirkan jalan keluarnya agar tidak diserang manusia. Agar seluruh
tubuh kitatidak disayat-sayat oleh manusia.” Jelas Hiu Mentor.
“Hm…apa, ya?” Ayah Cury mengernyitkan kening.
“Kita
bersembunyi saja di dalam kapal karam ini. Kita jangan menunjukkan
wajah jika ada manusia menyelam di sekitar sini.” Tambah isterinya
polos.
Cury
tertawa mendengar ucapan ibunya. Hiu Mentor memperingatinya agar ia
tidak kurangajar terhadap orangtua. “Jangan anggap sepele pendapat
Ibumu. Kita harus menerima semua pendapat yang masuk dari para hiu. Dari
pendapat-pendapat itu akan muncul pendapat yang brilyan. Di situ akan
membuat wawasan kita makin bertambah!”
Cury dan Cute saling pandang. Hiu Mentor tahu apa yang dirasakan kedua hiu muda ini.
“Ajarilah
para hiu kolam mencari makan. Mereka harus bisa menghidupi diri
sendiri. Di lautan luas ini, kita tidak bisa lagi hidup bermanja-manja,
menunggu ada yang memberi kita makan. Di sini tak seekor ikan pun akan
berbaik hati pada kita. Mereka juga sibuk dengan diri mereka sendiri.
Jadi belajar dan berinovasilah!” ujar Hiu Mentor.
Cute
menyimak baik-baik ucapan Hiu Mentor. Perlahan-lahan ia mulai belajar
menjelajahi lautan luas bersama Cury. Awalnya ia berani berenang seratus
meter dari tempat berkumpulnya para hiu lautan, kemudian dua ratus
meter, seterusnya tiga ratus meter, dan begitu terus, hingga akhirnya
dia berani berenang sendiri tanpa ditemani Cury lagi. Bahkan terkadang
Cute jarang pulang ke kelompok hiu lautan. Menurut penuturannya, ia
memiliki teman baru, para hiu yang tinggal di laut selatan.
“Ternyata
mereka baik-baik. Beberapa ada yang mengajari aku mencari makanan di
tempat mereka. Besok, mereka akan mengajak aku bertemu dengan seekor
ikan lumba-lumba yang bernama Jipi, dia dan temannya akan mengajak aku
berenang di permukaan laut.”
“Apa? Berenang di permukaan laut? Duh, jangan lakukan itu anakku. Nanti kamu akan diburu manusia.” Ibu Cure tampak cemas.
“Dia
akan belajar bagaimana menyelamatkan diri. Manusia tidak semudah itu
akan menangkapnya, Cute pasti akan lebih cepat dari manusia. Ibu tidak
usah cemas, percayalah dengan memberinya kebebasan untuk menjelajahi
lautan dan permukaannya, wawasannya akan bertambah. Dia akan menjadi hiu
yang tangguh menghadapi bahaya yang mengintai,” ujar Hiu Mentor.
Ibu
Cute dan ayahnya akhirnya harus rela melepaskan anak mereka
bermain-main di atas samudra bersama hiu-hiu lainnnya. Cury tidak turut
bergabung dengan Cute, ia membebaskan sahabatnya untuk mencari pengalaman baru. Cury tahu kalau Cute sudah memperoleh kembali rasa percaya dirinya.
Perlahan
namun pasti, hiu-hiu kolam mulai beradaptasi dengan lingkungan baru
mereka. Kini, tidak ada lagi jam-jam penantian makan pagi, siang ataupun
malam yang diberikan para pegawai Pak Harno. Tidak ada lagi daging
mentah merah dengan darah segar yang membangkitkan selera. Mereka harus
berjuang untuk hidup. Hiu-Hiu kolam itu mulai terbiasa dengan keadaan
sekitar. Mereka memang belum seberani Cury maupun Cute. Dua hiu
pemberani itu belum bisa tertandingi.
Mungkin
karena sejak bayi mereka terbiasa hidup di dalam kolam di tepian
pantai, hiu-hiu kolam ini lebih lamban dari hiu lautan. Jika hiu lautan
berhasil memperoleh mangsa ikan-ikan yang besar-besar, hiu kolam hanya
memperoleh ikan-ikan kecil yang berenang di celah-celah batu karang.
Karena perolehan makanan yang kurang inilah, tak jarang hiu kolam kerap
mengeluh kelaparan. Setiap saat, jika sudah lapar, hiu-hiu kolam dewasa
maupun yang sudah tua terus menggerutu. Mereka kembali mengenang
masa-masa saat mereka hidup senang.
“Andai
saja tsunami tidak datang, sampai saat ini kita masih berada di kolam
dan tidak pernah kekurangan makanan.” Keluh seekor hiu yang sudah mulai
tua.
“Iya,
tadi aku sudah berenang hampir mendekati permukaan laut, tapi yang
kuperoleh hanya ikan-ikan kecil yang bisa terbang. Saat kumakan tubuh
mereka, tak ada sedikit dagingpun yang menempel di sana, tubuh mereka
hanya tulang belulang. Jika setiap hari aku makan seperti itu,
lama-kelamaan aku bisa mati kekurangan gizi.” Tambah rekannya.
Hiu
Mentor mendengar semua keluhan hiu kolam. Dengan bijak ia berkata,
“Mengingat kembali masa lalu yang sudah berlalu adalah suatu
kesia-siaan. Masa lalu tidak akan terluang kembali, yang harus kita
hadapai adalah masa yang akan datang. Mengeluh dan terus mengeluh tidak
akan menyelesaikan masalah...” Hiu Mentor menegaskan kepada para hiu kolam. Ia kemudian melanjutkan:
“Ingat Ashleigh Brilliant pernah berkata Nothing we can do can change the past, but everything we do changes the future.’. Jadi sekarang belajarlah
pada hiu lautan bagaimana caranya mereka bisa memperoleh makanan lebih
banyak dan lebih besar. Aku sudah berkali-kali mengingatkan kalian, di
sini jika kalian tidak mau berusaha, maka kalian akan mati sia-sia. Semua hiu lautan mampu hidup mandiri.
Lihat saja, sejak anak-anak hiu dilahirkan, mereka sudah dilatih untuk
mencari makan dan menghidupi diri mereka sendiri. Jiwa entrepreneurs
mereka sudah diasah sejak kecil. Nah, meski kalian baru beradaptasi di
lingkungan lautan luas, kalian kan sama dengan kami, kalian punya naluri
yang juga sama, sekarang tinggal semangat, kreativitas dan inovasi
dalam diri kalianlah yang harus dibangun. Ayo, mulailah melakukan
sesuatu, jangan menggerutu terus!”
Para Hiu kolam yang mendengarkan ucapan Hiu Mentor diam beberapa saat.
“Kami
kan sejak lahir sudah berada di kolam, kehidupan kami berputar di
situ-situ saja, kami sudah dididik untuk menerima apa saja yang
diberikan orang yang memelihara kami. Lalu bagaimana kami bisa seperti
hiu lautan luas?” tanya seekor hiu yang masih remaja.
“Memang
ada perbedaan antara kalian dengan hiu lautan luas. Jika mereka telah
mengenal lautan selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu, proses
pembelajaran diri mereka jauh lebih kaya. Jiwa entrepreneurs dalam diri
mereka juga sudah membudaya, selain itu, sejak kecil hiu lautan sudah
memiliki pola pikir bahwa di laut luaslah mereka harus berusaha dan
membentuk diri menjadi seekor hiu perkasa yang pantang menyerah, mereka
sudah tahu tujuan hidup apa yang harus mereka capai…”
“Nah itulah, kami kan tidak seperti mereka.” Potong Jackal.
“Nanti
dulu, dengarkan dulu apa yang kumaksud,” Hiu Mentor memperingatkan hiu
yang keras kepala ini. “Kalian jangan takut dan cemas, ada tiga hal yang
dapat terjadi dalam diri seekor hiu yang akan menentukan apakah ia akan memiliki hati entrepreneur yang besar. Pertama lahir, kedua lingkungan, dan ketiga latihan. Seekor hiu yang lahir dari sebuah keluarga hiu lautan akan terbiasa dengan dunia entrepreneur, hati entrepreneurnya tumbuh di dalam keluarga, mereka kemungkinan besar bisa menjadi seekor entrepreneur yang baik karena sudah terlatih secara tidak sengaja. Kedua adalah
faktor lingkungan, mungkin hiu tidak lahir di lautan namun ketika
bertumbuh besar bergaul dengan hiu lautan maka hiu inipun bisa memiliki
hati entrepreneur yang besar. Ketiga, hiu
dari kolam, bukan hiu lautan tapi memiliki smangat, keinginan yang kuat
dan percaya diri bisa menjadi hiu lautan, Hiu seperti ini siap untuk
dilatih menjadi hiu lautan, mereka memiliki benih hati entrepreneur yang
besar. Cury adalah contohnya. Namun untuk itu harus ada pelatihan dan
harus ada mentor yang membantunya. Kalian
sudah menjadi hiu yang ketiga, selama ini kalian sudah memperoleh
pelatihan dari anak buahku, tinggal bagaimana semangat kalian, mau tidak
melaksanakannnya. Sebab untuk menjadi hiu lautan yang berhasil
harus mampu menciptakan peluang baru, bukan sekedar mencari peluang,
lalu mampu ber-inovasi dan selanjutnya berani mengambil resiko yang
terukur, apakah itu
resiko gagal, malu dan sebagainya. Dalam pengambilan resiko harus
disertai dengan perhitungan yang matang, jadi bukan asal berani saja.
Jika kalian masuk dalam dunia lautan luas ini tanpa perhitungan yang
matang, maka malapetaka akan menghampiri kalian.”
“Seperti apa perhitungan yang matang itu Hiu Mentor?” Jackal dan para hiu lainnya mulai serius mendengarkan.
“Contohnya
seperti pelatihan-pelatihan yang diberikan anak buahku. Kalian kan
sudah diajarkan bagaimana mencari makanan, bagaimana berenang ke lautan
yang lebih luas, bagaimana berjaga-jaga jika dalam keadaan bahaya,
bagaimana bertahan dari serangan musuh, bagaimana menyelamatkan diri,
dan banyak lagi. Jika semua itu tidak kalian praktekkan, pada saat
kalian berada di lautan luas, kalian akan menjadi hiu yang bodoh, yang
memberikan tubuh kalian untuk dimangsa. Kalian akan hidup dengan
sia-sia…”
“Ooo…jadi kita berenang bukan asal berenang saja ya, Mentor?” tanya seekor hiu yang masih remaja dengan polos.
“Tentu
saja. Lautan luas itu penuh bahaya. Jika kalian tidak memiliki
keahlian, tidak jeli dan tidak mau belajar, seperti yang sudah kukatakan
tadi, kalian akan menjadi santapan empuk ikan-ikan lain yang lebih
ganas.”
Para
hiu merenungi ucapan Hiu Mentor. Cury dan Cute yang baru saja kembali
dari laut dangkal, melaporkan hasil pengintaian mereka.
“Gawat,
manuasia-manusia penyelam sudah tahu keberadaan kita. Mereka akan
memangsa kita untuk dijadikan ikan kaleng, bahan kosmetik dan obat kuat.
Kita harus menyingkir dari sini!”
“Iya benar, mereka membawa perlengkapan teknologi yang canggih, ada alat untuk mendeteksi keberadaan kita segala!” tambah Cute.
“Wah, apa yang harus kita lakukan?” tanya ayah Cury.
“Aku
tak mau mati sia-sia di sini. Coba kalau kita masih ada di kolam,
pegawai-pegawai Pak Harno akan melindungi kita. Mereka akan menyuruh
orang-orang itu menjauh dari tempat tinggal kita, hu…hu…hu…” seekor hiu
remaja yang cengeng mulai menangis.
“Aku
tak kuat berenang jauh-jauh, tubuhku sudah lemah,” keluh seekor hiu tua
yang gemuk dengan hidung megap-megap, tampaknya saking kegendutan ia
susah untuk bernafas.
Semua hiu menatap Hiu Mentor, mereka menggantungkan harapan pada sang master lautan luas ini.
“Hm…benar seperti apa yang kalian lihat?”
“Benar
Mentor, mereka juga membawa panah beracun, senjata untuk menembak,
bahan peledak yang bisa membuat kita mabuk, kail dan jaring!” tegas
Cury.
Hiu
Mentor dia beberapa saat. “Begini, malam ini kalian jangan keluar dari
daerah ini. Makanlah apa yang kalian temukan di sini, jangan mengeluh
dan jangan menggerutu. Aku, Cury dan beberapa hiu yang sudah terlatih,
akan keluar menyelidiki semua kegiatan manusia. Jika dalam satu hari
kami tidak kembali, itu artinya kami binasa di tangan manusia. Kalian
harus siap-siap menyelamatkan diri kalian sendiri. Bila kami kembali,
aku akan mengajak kalian untuk pergi meninggalkan tempat ini, mencari
daerah baru yang lebih aman untuk kita tempati. Ingat pesanku, jangan
pergi jauh dari tempat ini!”
Para
hiu mengangguk patuh. Mereka melepas kepergian Hiu Mentor, Cury dan
hiu-hiu perkasa dengan perasaan tak menentu. Ibu Cury menitikkan air
mata, ia berharap sang putera, Hiu Mentor dan hiu-hiu lain yang pergi
itu, kembali dengan selamat.
----------------------------------------------------------End Chapter 5

Tidak ada komentar:
Posting Komentar