Jumat, 26 Oktober 2012

SEKOLAH KEHIDUPAN Bagian 2



Sekolah Kehidupan
Bagian 2: Memilih Sekolah Kehidupan
Teki yang mulai tumbuh kesadarannya merasakan ada ruang-ruang kehidupan yang begitu penting namun jarang ia berikan waktu untuk memikirkan. Ia hampir tidak pernah memikirkan masa depannya sendiri dengan serius, hidup ya mengalir saja seperti biasa dari tahun ke tahun. Teki sekarang mulai terinspirasi untuk menetapkan target akan berapa tahun lagi bekerja di Hong Kong.  Tie membiarkan Teki untuk berpikir sejenak lalu ia melanjutkan:
” Tertarik bukan?” Teki mengangguk dengan mantap.
 “ Setelah SMP melanjutkan ke SMA , nah untuk kami para pembelajar Sekolah Kehidupan maka SMA berarti Semangat Masuk Akal. Harus ada semangat dalam menempuh kehidupan yang penuh tantangan namun semangat saja tidak cukup karena harus asa strategi-strategi kehidupan yang masuk akal. Sekolah Kehidupan yang benar dan lengkap tidak hanya menginspirasi dan memotivasi namun menawarkan cara-cara masuk akal bagaimana menempuh impian masa depan. Masa depan bukan hanya dimenangkan lewat semangat yang meluap-luap tapi juga dibutuhkan persiapan, pelatihan yang kemudian diungkapkan jadi perencanaan. Engkau harus berani dan mencoba sendiri merancang dan mewarnai kanvas kehidupan masa depanmu...”
“Oh ya ada juga sekolah menengah lain di Sekolah Kehidupan namanya STM tapi punya arti yang berbeda yaitu bukan Sekolah Teknik Menengah tapi Sanggup Tidak Miskin...”
Teki makin menyimak dan kemudian untuk pertama kali dia bisa memberikan komentar kreatif:”Hmmm sekarang STM sudah tidak ada, gantinya SMK tapi kalau aku dapat memberikan nama maka SMK Sekolah Kehidupan adalah Sanggup Mengalahkan Kemiskinan.....”
“Ha... ha... ha”. Tie tertawa lepas dan dan kemudian berkata dengan semangat:”Hei Teki, itu menunjukkan dalam dirimu ada benih-benih kreativitas. Engkau dapat menciptakan sebuah kepanjangan yang kreatif dan penuh makna...” Teki terseyum sipu, malu namun bangga kemudian ia minta Tie melanjutkan ceritanya tentang PT atau Perguruan Tinggi.
Tie menatap tajam Teki dan berkata dengan serius:”Di Sekolah Kehidupan, PT bukan Perguruan Tinggi tapi Perseroan Terbatas artinya engkau berhasil menjadi pemilik usaha yang terdaftar, legal dan berani bayar pajak. Ini jenjang pendidikan  tinggi untuk Sekolah Kehidupan karena engkau sudah sanggup mencipta kerja bagi diri sendiri, kau sanggup mengentrepreneurkan bakat, talenta atau keahlianmu. Selain itu  PT  atau Perseroan Terbatas yang kau miliki akan menopang kehidupan orang lain baik itu kehidupan karyawan, pemasokmu dan juga pelangganmu. Bahkan engkau sendiri siap untuk ikut serta jadi pembayar pajak. Itulah artinya lulus dari Sekolah Kehidupan, engkau berhasil memberikan makna terhadap kehidupan, apakah itu kehidupan dirimu sendiri, keluargamu, sesamamu dan kepada tanah airmu.”
Teki makin tertarik dan sekarang ia mendekatkan kepalanya kepada Tie dan bertanya: “Dimana Sekolah Kehidupan itu..? Tampaknya Tie sudah menebak pertanyaan ini karena kemudian ia mengeluarkan sebuah envelope dan berkata:” Di dalam envelope ini terdapat informasi tentang sebuah Sekolah Kehidupan namun sebelum engkau membukanya dengarkan dulu penjelasanku..”
Teki terdiam dan ia menyatakan bersungguh hati untuk mendengar penjelasan Tie.
“Di dalam kelas-kelas Sekolah Kehidupan ada 3 macam peserta. Yang pertama aku sebut sebagai PEMAIN, mereka adalah para pembelajar sejati dengan keinginan sangat kuat untuk menyelesaikan Sekolah Kehidupan. Mereka berani menembus hujan dan panas demi menyelesaikan tugas, mereka berani menempuh perjalanan panjang dan jika perlu dipotong gaji untuk dapat mengikuti Sekolah Kehidupan, mereka belajar setiap hari dan berusaha belajar sesering mungkin. Yang kedua adalah PENONTON yaitu mereka yang masih mengunyah informasi-informasi baru, mereka mulai tertarik tapi belum terlalu aktif, aku berharap mereka akan beralih jadi PEMAIN kelak. Yang ketiga adalah PELANCONG, mereka datang ke acara Sekolah Kehidupan hanya untuk bertemu teman. Datang dan pergi sesuai dengan suasana hati dan bukan karena tujuan masa depan. Kalau engkau nanti membuka envelope ini aku ingin memastikan bahwa engkau ingin menjadi PEMAIN.....” Tie sekarang menantang Teki dan matanya menatap mata Teki, ia kemudian melanjutkan.
“Sekarang mari berpisah dan kau berjalanlah sampai ke sudut Victoria Park yang sebelah sana, sementara kau berjalan berpikirlah baik-baik apakah sungguh-sungguh mau membayar harga untuk jadi PEMAIN. Kalau kau ragu nanti di ujung taman ada tong sampah dan buanglah envelope ini tanpa membukanya dan jalani hidup di Hong Kong seperti biasa sampai majikan tidak membutuhkan lagi. Tapi kalau kau memiliki KEINGINAN yang sangat besar atau INGINNYA 3X untuk menjadi PEMAIN buka envelope ini, baca dan kemudian lekatkan di dadamu lalu berdoalah kepada TUHAN Pemilik Kehidupan agar engkau mendapat bimbingan dan pertolongan menempuh Sekolah Kehidupan hingga keberhasilan ada dalam genggamanmu..”
 Teki berterima kasih dan menyatakan diri ia akan segera berjalan ke sudut Victoria Park yang ditunjukkan Tie. Namun memang rupanya Teki sudah terinspirasi sehingga ia kembali memberikan pertanyaan kreatif kepada Tie:” Namamu Tie cukup kreatif ya sebagai orang Indonesia, jarang yang memiliki nama seperti itu...apakah itu nama panggilan?
Tie tergelak dan berkata:”Teki kau pengamat yang baik. Betul Tie adalah nama panggilan karena namaku yang sesungguhnya adalah Tiga E dan kau akan memahami arti nama 3E itu dalam Sekolah Kehidupan dan bagaimana dengan namamu sendiri...?
Teki menunduk malu:”Ku kira ibuku memberi nama keliru padaku karena nama Teki bisa saja diartikan Tenaga Kerja Indonesia, memang sudah nasibnya hanya jadi TKI....”
Sekarang mata Tie berubah serius:”No,no, no... jangan sampai hidupmu terkunci oleh pemikiran yang terbatas seperti itu, bukankah Teki juga bisa berarti.... mmm...Tim Entrepreneur Komunitas Indonesia juga bukan? Kau memilih yang mana..? Okay jangan buang waktu segeralah berjalan ke sudut sana dari Victoria Park sambil berpikir apakah kau akan jadi Pemain, Penonton atau Pelancong..”
Teki berjalan pelan tapi pasti di keramaian sore menjelang malam di Victoria Park Hong Kong . Ia baru saja mengalami sebuah perjumpaan yang memberikan pencerahan dan membuka wawasan. Ia berjalan sambil terus berpikir dan gelombang-gelombang tekad makin membesar dan akhirnya membuncah. Teki sudah mengambil keputusan. Ia kemudian berlari menuju ujung taman, ia tidak mau berjalan lagi, keputusan sudah diambil. Di ujung taman dengan terengah ia membuka segera envelope di tangannya, hanya ada secarik kertas disana, hanya ada satu kalimat disana. Kalimat itu adalah:
“Selamat bergabung di MANDIRI SAHABATKU komunitas pembelajar Entrepreneurship untuk mengubah Kotoran & Rongsokan Menjadi Emas.. Salam 3 E”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar