Sekolah Kehidupan
Bagian 2: Memilih Sekolah Kehidupan
Teki yang mulai tumbuh kesadarannya merasakan ada
ruang-ruang kehidupan yang begitu penting namun jarang ia berikan waktu
untuk memikirkan. Ia hampir tidak pernah memikirkan masa depannya
sendiri dengan serius, hidup ya mengalir saja seperti biasa dari tahun
ke tahun. Teki sekarang mulai terinspirasi untuk menetapkan target akan
berapa tahun lagi bekerja di Hong Kong. Tie membiarkan Teki untuk
berpikir sejenak lalu ia melanjutkan:
” Tertarik bukan?” Teki mengangguk dengan mantap.
“ Setelah SMP melanjutkan ke SMA , nah untuk kami para
pembelajar Sekolah Kehidupan maka SMA berarti Semangat Masuk Akal. Harus
ada semangat dalam menempuh kehidupan yang penuh tantangan namun
semangat saja tidak cukup karena harus asa strategi-strategi kehidupan
yang masuk akal. Sekolah Kehidupan yang benar dan lengkap tidak hanya
menginspirasi dan memotivasi namun menawarkan cara-cara masuk akal
bagaimana menempuh impian masa depan. Masa depan bukan hanya dimenangkan
lewat semangat yang meluap-luap tapi juga dibutuhkan persiapan,
pelatihan yang kemudian diungkapkan jadi perencanaan. Engkau harus
berani dan mencoba sendiri merancang dan mewarnai kanvas kehidupan masa
depanmu...”
“Oh ya ada juga sekolah menengah lain di Sekolah
Kehidupan namanya STM tapi punya arti yang berbeda yaitu bukan Sekolah
Teknik Menengah tapi Sanggup Tidak Miskin...”
Teki makin menyimak dan kemudian untuk pertama kali dia
bisa memberikan komentar kreatif:”Hmmm sekarang STM sudah tidak ada,
gantinya SMK tapi kalau aku dapat memberikan nama maka SMK Sekolah
Kehidupan adalah Sanggup Mengalahkan Kemiskinan.....”
“Ha... ha... ha”. Tie tertawa lepas dan dan kemudian
berkata dengan semangat:”Hei Teki, itu menunjukkan dalam dirimu ada
benih-benih kreativitas. Engkau dapat menciptakan sebuah kepanjangan
yang kreatif dan penuh makna...” Teki terseyum sipu, malu namun bangga
kemudian ia minta Tie melanjutkan ceritanya tentang PT atau Perguruan
Tinggi.
Tie menatap tajam Teki dan berkata dengan serius:”Di
Sekolah Kehidupan, PT bukan Perguruan Tinggi tapi Perseroan Terbatas
artinya engkau berhasil menjadi pemilik usaha yang terdaftar, legal dan
berani bayar pajak. Ini jenjang pendidikan tinggi untuk Sekolah
Kehidupan karena engkau sudah sanggup mencipta kerja bagi diri sendiri,
kau sanggup mengentrepreneurkan bakat, talenta atau keahlianmu. Selain
itu PT atau Perseroan Terbatas yang kau miliki akan menopang kehidupan
orang lain baik itu kehidupan karyawan, pemasokmu dan juga pelangganmu.
Bahkan engkau sendiri siap untuk ikut serta jadi pembayar pajak. Itulah
artinya lulus dari Sekolah Kehidupan, engkau berhasil memberikan makna
terhadap kehidupan, apakah itu kehidupan dirimu sendiri, keluargamu,
sesamamu dan kepada tanah airmu.”
Teki makin tertarik dan sekarang ia mendekatkan
kepalanya kepada Tie dan bertanya: “Dimana Sekolah Kehidupan itu..?
Tampaknya Tie sudah menebak pertanyaan ini karena kemudian ia
mengeluarkan sebuah envelope dan berkata:” Di dalam envelope ini
terdapat informasi tentang sebuah Sekolah Kehidupan namun sebelum engkau
membukanya dengarkan dulu penjelasanku..”
Teki terdiam dan ia menyatakan bersungguh hati untuk mendengar penjelasan Tie.
“Di dalam kelas-kelas Sekolah Kehidupan ada 3 macam
peserta. Yang pertama aku sebut sebagai PEMAIN, mereka adalah para
pembelajar sejati dengan keinginan sangat kuat untuk menyelesaikan
Sekolah Kehidupan. Mereka berani menembus hujan dan panas demi
menyelesaikan tugas, mereka berani menempuh perjalanan panjang dan jika
perlu dipotong gaji untuk dapat mengikuti Sekolah Kehidupan, mereka
belajar setiap hari dan berusaha belajar sesering mungkin. Yang kedua
adalah PENONTON yaitu mereka yang masih mengunyah informasi-informasi
baru, mereka mulai tertarik tapi belum terlalu aktif, aku berharap
mereka akan beralih jadi PEMAIN kelak. Yang ketiga adalah PELANCONG,
mereka datang ke acara Sekolah Kehidupan hanya untuk bertemu teman.
Datang dan pergi sesuai dengan suasana hati dan bukan karena tujuan masa
depan. Kalau engkau nanti membuka envelope ini aku ingin memastikan
bahwa engkau ingin menjadi PEMAIN.....” Tie sekarang menantang Teki dan
matanya menatap mata Teki, ia kemudian melanjutkan.
“Sekarang mari berpisah dan kau berjalanlah sampai ke
sudut Victoria Park yang sebelah sana, sementara kau berjalan
berpikirlah baik-baik apakah sungguh-sungguh mau membayar harga untuk
jadi PEMAIN. Kalau kau ragu nanti di ujung taman ada tong sampah dan
buanglah envelope ini tanpa membukanya dan jalani hidup di Hong Kong
seperti biasa sampai majikan tidak membutuhkan lagi. Tapi kalau kau
memiliki KEINGINAN yang sangat besar atau INGINNYA 3X untuk menjadi
PEMAIN buka envelope ini, baca dan kemudian lekatkan di dadamu lalu
berdoalah kepada TUHAN Pemilik Kehidupan agar engkau mendapat bimbingan
dan pertolongan menempuh Sekolah Kehidupan hingga keberhasilan ada dalam
genggamanmu..”
Teki berterima kasih dan menyatakan diri ia akan segera
berjalan ke sudut Victoria Park yang ditunjukkan Tie. Namun memang
rupanya Teki sudah terinspirasi sehingga ia kembali memberikan
pertanyaan kreatif kepada Tie:” Namamu Tie cukup kreatif ya sebagai
orang Indonesia, jarang yang memiliki nama seperti itu...apakah itu nama
panggilan?
Tie tergelak dan berkata:”Teki kau pengamat yang baik.
Betul Tie adalah nama panggilan karena namaku yang sesungguhnya adalah
Tiga E dan kau akan memahami arti nama 3E itu dalam Sekolah Kehidupan
dan bagaimana dengan namamu sendiri...?
Teki menunduk malu:”Ku kira ibuku memberi nama keliru
padaku karena nama Teki bisa saja diartikan Tenaga Kerja Indonesia,
memang sudah nasibnya hanya jadi TKI....”
Sekarang mata Tie berubah serius:”No,no, no... jangan
sampai hidupmu terkunci oleh pemikiran yang terbatas seperti itu,
bukankah Teki juga bisa berarti.... mmm...Tim Entrepreneur Komunitas
Indonesia juga bukan? Kau memilih yang mana..? Okay jangan buang waktu
segeralah berjalan ke sudut sana dari Victoria Park sambil berpikir
apakah kau akan jadi Pemain, Penonton atau Pelancong..”
Teki berjalan pelan tapi pasti di keramaian sore
menjelang malam di Victoria Park Hong Kong . Ia baru saja mengalami
sebuah perjumpaan yang memberikan pencerahan dan membuka wawasan. Ia
berjalan sambil terus berpikir dan gelombang-gelombang tekad makin
membesar dan akhirnya membuncah. Teki sudah mengambil keputusan. Ia
kemudian berlari menuju ujung taman, ia tidak mau berjalan lagi,
keputusan sudah diambil. Di ujung taman dengan terengah ia membuka
segera envelope di tangannya, hanya ada secarik kertas disana, hanya ada
satu kalimat disana. Kalimat itu adalah:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar