Sekolah Kehidupan
Bagian 16:
Diskusi dengan Tie
Mey mendapat
kabar dari keluarga bahwa adiknya masuk rumah sakit untuk dioperasi karena
kecelakaan sepeda motor sehingga dalam pertemuan hari Minggu itu Mey buru-buru
pulang ke rumah majikan untuk minta ijin pulang dan dibantu mendapatkan tiket
ke Indonesia. Baik Teki maupun Eti merasa gelisah sehingga mereka mengirim sms
esok hari nya pagi-pagi sekali.
“gmn adikmu,
sudah di airportkah sekarang” demikian pesan dari Teki
“kuatkan ya Mey,
sekarang sdh dmn” demikian pesan Eti
Tidak lama
kemudian sebuah jawaban tiba
“tdk jadi brkt,
penjelasan hari Minggu V-Park”
Baik Teki maupun
Eti menjadi bingung namun juga merasa lega dan mereka kembali beraktivitas di
tempat pekerjaan mereka sambil terus mencari peluang berinovasi. Dan ketika hari
Minggu kembali tiba, mereka berkumpul lagi di Victoria Park.
“Aku tidak jadi berangkat,
bukan dilarang dan bukan juga tidak ada tiket...” Mey menarik nafas sejenak
namun wajahnya teduh dan tenang.
“Mrs.Chen
mempersilahkan aku menggunakan telepon keluarga mereka untuk menghubungi
Indonesia kembali. Supaya aku bisa bicara dengan leluasa katanya....Aku dipandu
oleh dia untuk bertanya dan berbicara dengan keluargaku, dokter yang merawat,
adikku sendiri dan akhir pihak administrasi rumah sakit. Memang Mrs.Chen adalah
ekskutif bisnis yang hebat dia tenang, rasional dan sistimatis dalam memecahkan
masalah...”
“Lalu, lalu apa
yang terjadi selanjutnya..?”Teki dan Eti seakan tidak sabar menunggu dan Mey
kemudian melanjutkan.
“Akhirnya aku
tahu alasan mereka minta aku datang sebenarnya masalah UUD sih Ujung-Ujungnya
Duit. Tidak terlalu serius namun biaya operasi cukup mahal yah sekitar HKD
20.000...”
“Ops ......
sekitar 5 bulan gaji nih, wah berat juga ya.....” Teki yang hidup hemat demi
nabung berpendapat.
“Waduh, memang
jangan mau jadi orang miskin, kalau sakit dan masuk rumah sakit bisa langsung
melarat....”Eti juga berpendapat.
Mey kemudian
meneruskan cerita:”Dari kejadian inilah aku menemukan kebaikan dari keluarga
Chen karena kemudian Mrs.Chen menawarkan kepada ku untuk menalangi dulu seluruh
biaya lalu separuh biaya akan merupakan sumbangan dari keluarganya dan sisanya
boleh aku cicil semauku....., aku lega, aku gembira dan Mrs.Chen hari itu juga
melalui internet bangking mengatur agar uang bisa ditransfer dan operasi bisa
dilakukan sesegera mungkin..., dan tentunya aku tidak perlu datang lagi..”
“Mengharukan...
ternyata Mrs.Chen tidak seburuk yang kita sangka ya..”Eti berkomentar.
“Betul, betul,...
dosa ya kita sempat omongin dia yang buruk-buruk..”Teki juga berkomentar.
Mey kemudian melanjutkan
cerita:”Aku nangis menyaksikan respon Mrs.Chen yang simpatik dan aku terima
kasih terima kasih sekali kepada dia,
dia kemudian memeluk aku dan mengatakan bahwa aku sudah berbuat baik ke
keluarga Chen dan keluarga Chen tidak boleh melupakan kebaikan dari mereka yang
sudah berbuat baik kepada mereka....................”
Matahari makin
beranjak sore, ketiga sahabat masih bercengkrama seru ketika matahari hampir
tenggelam mereka memtuskan mengakhiri diskusi dengan kembali melakukan refleksi
terhadap semua pengalaman mereka. Mereka ingin mendapatkan mutiara pembelajaran
seindah mungkin dan sebanyak mungkin.
“Hmmm kita sudah
berbagi refleksi dan pengalaman diantara kita, aku jadi ingat Tie nih,
barangkali dia ada di sekitar kita, kita ajak gabung ya berdiskusi bersama..”
Teki mengambil inisiatif dan kemudian ia mengirim berita melalui sms mengajak
Tie ikut bergabung.
“Sip dia sedang
beredar di sekitar Victoria Park, akan bergabung 10 menit lagi...” Demikian
Teki memberikan laporan.
Tie datang tidak
lama kemudian, ia bangga melihat dan mendengar cerita dari Grup 3 E ini.
Cerita-cerita yang penuh inspirasi, inovasi dan membangkitkan semangat. Ia
kemudian berkata:
“Yuk kita periksa
dan diskusikan pendapat teman-teman kita tentang menjadi intrapreneur di rumah
majikan..mari kita lihat posting mereka”Tie mengajak mereka berdiskusi serius
lagi.
“Setuju, setuju,
setuju” Ketiga sahabat ini memberikan respon dengan cepat.
“Nah ini dia dari
mbak Jingga Flamboyan ia berpendapat bahwa intrpreneur itu selalu berpikir ke
depan, maju, semangat dan punya keinginan kuat untuk berubah dan merubah masa
depan lebih cemerlang. Hmm bagaimana pendapatmu Teki..? Tie membuka diskusi
“Iya sih, kami bertiga melakukan
inisiatif-inisiatif baru dan berusaha berinovasi di tempat kerja karena kami
memiliki cita-cita ingin mengubah masa depan...”Demikian Teki menjelaskan
“Bagus, sekarang aku lihat pendapat mbak Fluent Rivani yang mengatakan bahwa intrapreneur atau orang
kerja dengan jiwa entrepreneur itu kreatif, otaknya penuh ide-ide yang unik
memiliki kata kata dan ucapan yang selalu bersemangat dan punya aura positif.
Melakukan kegiatan kegiatan positif yang menambah ilmu dan memperluas wawasan
serta berani melakukan hal-hal yang baru. Nah bagaimana Eti pendapatmu...?” Tie
juga bertanya ke Eti.
“Setuju sekali, bahasa kami sudah beda Tie,
kami sudah ogah gossiping and go shopping lho, sekarang lebih senang belajar,
diskusi dan lakukan yang kreatif. Buktinya Mey sekarang sudah seperti seorang
guru saja wawasannya, jangan-jangan banyak guru yang kalah wawasan oleh
beliau...” Eti menjawab dengan bersemangat.
“Sip, sip kalian memang pembelajar
entrepreneurship yang hebat. Sekarang aku akan tunjukkan tulisan dari mbak Nina Riyadi menurut dia intrapreneur bisa menjadikan masalah menjadi peluang, melakukan kreatifitas &
inovasi untuk membuat pelanggan (majikan) tidak bisa bilang tidak, berusaha
bekerja dengan cinta dari hati dan dapat menunjukan sikap ramah & gembira.
Seorang Entrepreneur mulai dari diri sendiri lalu lingkungan kerja dan baru
yang lainnya,... Hayo Mey bagaimana pendapatmu..”Sekarang Tie bertanya ke Mey.
“Yah ngga usah ditanya lagi deh. Itu lho
Teki sudah mengubah masalah popo Wong jadi dompet ... he... he ... dan Eti juga
menciptakan gagasan yang Mr.Lee tidak bisa bilang tidak bahkan sampai
garuk-garuk kepala dan keluar HKD 500.. ha.. ha” Mey menjawab dengan canda.
Tie terseyum gembira melihat optimisme di
wajah 3 BMI ini dan mendengar langsung cerita-cerita kisah nyata perjuangan dan
keberhasilan mereka ber inovasi. Kemudian mereka semua secara bersama-sama
membaca kalimat-kalimat dari teman-teman lain dari komunitas Mandiri Sahabatku
yang juga memberikan inspirasi.
Sarang Chinta: Bertindak cepat dan tepat, bermimpi lebih tinggi dan
merealisasikan impian nya menjadi kenyataan.. ruang dan waktu bukan
penghalang...dan NEVER GIVE UP
Anna Blitar Mudah menemukan peluang dan tidak mudah putus asa. Tidak takut menghadapi
kegagalan
Rose Rosida; Berjiwa pemenang berhasil memenangkan hati majikan
sebagai pelanggan yg harus dilayani dengan baik. Sehingga majikan puas dengan
kinerja dan tidak sanggup bilang tidak.
Amy Fadhilah Fadhilah Banyak mengeluarkan ide-ide baru, kreatif, berinovasi.
tak mudah putus asa.
Rizki Ramadhani : Menghargai WAKTU
Jocelyn Savanna : Berani melakukan perubahan baik pola pikir juga
karakter. Bersikap jujur, disiplin dan tanggung jawab. Waktu luang digunakan
untuk belajar
“Wah hebat-hebat ya, pendapat teman-teman
kalian. Aku membayangkan setiap kali bertemu dengan kalian auranya akan sangat
positif ya. Aku dengar lho bahwa pak Riza Senior Vice President Bank Mandiri
yang berkali-kali datang menengok kalian di Hong Kong mengatakan bahwa setiap
kali ke Hong Kong serasa mendapat enersi yang positif, itu membuat dia selalu
ingin kembali ke Hong Kong bertemu kalian semua. Yup kalian pertahankan ya
suasana belajar yang saling memotivasi ini dengan terus berinovasi...”Tie
mencoba membuat kesimpulan.
“Setuju, sip sip, sekarang bukan saatnya
NATO lagi, No Action Talk Only...tapi selalu bergerak dan tidak takut jadi yang
terdepan” Eti juga memberi semangat.
“Bank Mandiri, terdepan, terpercaya, tumbuh
bersama anda yes.. yes.. yes... ha.. ha... ha...”Tiga sahabat ini bernostalgia
suasana pelatihan Mandiri Sahabatku dengan penuh tawa.
“Aku harap kalian semua sekarang sudah
mengalami sebuah Sekolah Kehidupan yang menyenangkan sarat dengan makna dan
berdampak terhadap diri maupun sesama, aku jadi ingin tahu sekarang sejauh mana
kalian bisa membedakan Sekolah Kehidupan dengan sekolah biasa yang seperti kalian
biasa kita lihat..., bagaimana pendapatmu Teki..?” Sekarang tampaknya Tie ingin
mengetahui lebih jauh kualitas pembelajaran mereka.
“Hmm, kalau sekolah biasa ada jadwalnya
yang tetap tapi Sekolah Kehidupan tidak berjadwal kapan saja kita bisa belajar,
kalau sekolah biasa ada lokasinya dan gedungnya yang tetap tapi Sekolah
Kehidupan dapat terjadi dimana saja, kalau sekolah biasa ada guru-guru yang
ditunjuk namun kalau Sekolah Kehidupan siapa saja bisa jadi guru......daaaaan
ada satu yang sangat penting yaitu di sekolah biasa kita mengeluarkan biaya
tapi di Sekolah Kehidupan kita malah bisa dapat uang.... betulkan Eti dan
Mey,... ha...ha...ha” Demikian Teki yang suka nabung dan berhemat berpendapat.
Tie yang mendengar dengan seksama hanya manggut-manggut dengan hati bangga.
Sekarang teh Eti yang dulu biasanya hanya
banyak diam dan seyum-seyum saja mulai berpendapat:
“Kalau untuk aku perbedaan terbesar
terletak pada siapa yang jadi pengelola kegiatan belajar. Di sekolah biasa guru
memegang peran besar dalam menentukan apa yang dipelajari dan bagaimana kita
belajar tapi di Sekolah Kehidupan kita sendiri yang berinisiatif dan mengatur
pembelajaran kita. Kesimpulannya..... orang yang tak pernah melakukan inisiatif
baru, mencoba berinovasi atau melakukan perubahan dalam hidupnya adalah mereka
yang tidak pernah jadi murid Sekolah Kehidupan...”
“Bagus, bagus, sangat menarik....” Teki
memberi semangat
Mey yang sembari menyimak namun terus
berpikir kemudian membagikan perenungannya:”Sekolah biasa ijazahnya adalah
kertas atau piagam yang bisa saja hilang atau terbakar dan belum tentu bisa
menjamin masa depan kita tapi Sekolah Kehidupan ijazahnya ada dalam hati kita,
ada dalam batin kita, berupa mutiara-mutiara kehidupan yang sangat berharga.
Ijazah Sekolah Kehidupan adalah kumpulan dari pengalaman kehidupan yang kaya
makna karena dengan sengaja kita mewarnai kehidupan dengan inisiatif, inovasi dan
intropeksi atau refleksi terus menerus. Ijazah Sekolah Kehidupan adalah ketika
kita dapat membuktikan kepada diri sendiri, kepada keluarga dan kepada masyarakat
bahwa bisa lulus dari STM atau Sanggup
Tidak Miskin, lulus dari SMU atau Sanggup Mencari Uang dan bila semakin tinggi
dapat jadi lulusan PT atau punya Perseroan Terbatas...”
“Luar biasa, aku sangat bergembira dan aku
percaya kalau kita teruskan waktu diskusi kita maka akan banyak lagi mutiara
kehidupan yang kalian temukan sepanjang perjalanan menempuh jalan entrepreneur
ini...”Demikian Tie berkata sambil tersenyum bangga kepada seluruh anggota Grup
3 E.
Malam kemudian menyergap Victoria Park perlahan
namun pasti ketiga sahabat bersama Tie beranjak pulang ke rumah masing-masing.
Sebelum mereka akhirnya berpisah tiba-tiba Mey mengajukan pertanyaan mengejutkan
kepada Tie:”Ngomong-ngomong apa sih yang membuatmu selalu ingin menginspirasi,
memotivasi dan melatih kami untuk sanggup jadi entrepreneur Tie...? Tie
menghentikan langkah, memandang jauh ke depan menyapu seluruh Victoria Park,
kemudian menundukkan kepalanya ke bawah seakan berpikir sangat dalam kemudian
dengan kalimat perlahan ia mengatakan:
“Akan cukup panjang kalau aku ceritakan,
namun secara singkat Victoria Park lah yang membuat aku dan teman-temanku ingin
berada bersama kalian membangun masa depan kalian...”
“Koq Victoria Park...?”Teki bertanya.
“Ada apa dengan taman ini...?” Eti juga
bertanya
“Besok aku akan inbox sebuah puisi ke
masing-masing kalian, disana kalian akan menemukan
alasan-alasannya......”Demikian Tie menjawab pertanyaaan mereka.
(Bersambung) – Besok akan menjadi bagian akhir
dari cerita Sekolah Kehidupan untuk tema INTRAPRENEURSHIP


Tidak ada komentar:
Posting Komentar