Jumat, 26 Oktober 2012

SEKOLAH KEHIDUPAN Bagian 16

Sekolah Kehidupan
Bagian 16: Diskusi dengan Tie

Mey mendapat kabar dari keluarga bahwa adiknya masuk rumah sakit untuk dioperasi karena kecelakaan sepeda motor sehingga dalam pertemuan hari Minggu itu Mey buru-buru pulang ke rumah majikan untuk minta ijin pulang dan dibantu mendapatkan tiket ke Indonesia. Baik Teki maupun Eti merasa gelisah sehingga mereka mengirim sms esok hari nya pagi-pagi sekali.
“gmn adikmu, sudah di airportkah sekarang” demikian pesan dari Teki
“kuatkan ya Mey, sekarang sdh dmn” demikian pesan Eti
Tidak lama kemudian sebuah jawaban tiba
“tdk jadi brkt, penjelasan hari Minggu V-Park”
Baik Teki maupun Eti menjadi bingung namun juga merasa lega dan mereka kembali beraktivitas di tempat pekerjaan mereka sambil terus mencari peluang berinovasi. Dan ketika hari Minggu kembali tiba, mereka berkumpul lagi di Victoria Park.  
“Aku tidak jadi berangkat, bukan dilarang dan bukan juga tidak ada tiket...” Mey menarik nafas sejenak namun wajahnya teduh dan tenang.
“Mrs.Chen mempersilahkan aku menggunakan telepon keluarga mereka untuk menghubungi Indonesia kembali. Supaya aku bisa bicara dengan leluasa katanya....Aku dipandu oleh dia untuk bertanya dan berbicara dengan keluargaku, dokter yang merawat, adikku sendiri dan akhir pihak administrasi rumah sakit. Memang Mrs.Chen adalah ekskutif bisnis yang hebat dia tenang, rasional dan sistimatis dalam memecahkan masalah...”
“Lalu, lalu apa yang terjadi selanjutnya..?”Teki dan Eti seakan tidak sabar menunggu dan Mey kemudian melanjutkan.
“Akhirnya aku tahu alasan mereka minta aku datang sebenarnya masalah UUD sih Ujung-Ujungnya Duit. Tidak terlalu serius namun biaya operasi cukup mahal yah sekitar HKD 20.000...”
“Ops ...... sekitar 5 bulan gaji nih, wah berat juga ya.....” Teki yang hidup hemat demi nabung berpendapat.
“Waduh, memang jangan mau jadi orang miskin, kalau sakit dan masuk rumah sakit bisa langsung melarat....”Eti juga berpendapat.
Mey kemudian meneruskan cerita:”Dari kejadian inilah aku menemukan kebaikan dari keluarga Chen karena kemudian Mrs.Chen menawarkan kepada ku untuk menalangi dulu seluruh biaya lalu separuh biaya akan merupakan sumbangan dari keluarganya dan sisanya boleh aku cicil semauku....., aku lega, aku gembira dan Mrs.Chen hari itu juga melalui internet bangking mengatur agar uang bisa ditransfer dan operasi bisa dilakukan sesegera mungkin..., dan tentunya aku tidak perlu datang lagi..”
“Mengharukan... ternyata Mrs.Chen tidak seburuk yang kita sangka ya..”Eti berkomentar.
“Betul, betul,... dosa ya kita sempat omongin dia yang buruk-buruk..”Teki juga berkomentar.
Mey kemudian melanjutkan cerita:”Aku nangis menyaksikan respon Mrs.Chen yang simpatik dan aku terima kasih terima kasih sekali  kepada dia, dia kemudian memeluk aku dan mengatakan bahwa aku sudah berbuat baik ke keluarga Chen dan keluarga Chen tidak boleh melupakan kebaikan dari mereka yang sudah berbuat baik kepada mereka....................”
Matahari makin beranjak sore, ketiga sahabat masih bercengkrama seru ketika matahari hampir tenggelam mereka memtuskan mengakhiri diskusi dengan kembali melakukan refleksi terhadap semua pengalaman mereka. Mereka ingin mendapatkan mutiara pembelajaran seindah mungkin dan sebanyak mungkin.
“Hmmm kita sudah berbagi refleksi dan pengalaman diantara kita, aku jadi ingat Tie nih, barangkali dia ada di sekitar kita, kita ajak gabung ya berdiskusi bersama..” Teki mengambil inisiatif dan kemudian ia mengirim berita melalui sms mengajak Tie ikut bergabung.
“Sip dia sedang beredar di sekitar Victoria Park, akan bergabung 10 menit lagi...” Demikian Teki memberikan laporan.
Tie datang tidak lama kemudian, ia bangga melihat dan mendengar cerita dari Grup 3 E ini. Cerita-cerita yang penuh inspirasi, inovasi dan membangkitkan semangat. Ia kemudian berkata:
“Yuk kita periksa dan diskusikan pendapat teman-teman kita tentang menjadi intrapreneur di rumah majikan..mari kita lihat posting mereka”Tie mengajak mereka berdiskusi serius lagi.
“Setuju, setuju, setuju” Ketiga sahabat ini memberikan respon dengan cepat.
“Nah ini dia dari mbak Jingga Flamboyan ia berpendapat bahwa intrpreneur itu selalu berpikir ke depan, maju, semangat dan punya keinginan kuat untuk berubah dan merubah masa depan lebih cemerlang. Hmm bagaimana pendapatmu Teki..? Tie membuka diskusi
“Iya sih, kami bertiga melakukan inisiatif-inisiatif baru dan berusaha berinovasi di tempat kerja karena kami memiliki cita-cita ingin mengubah masa depan...”Demikian Teki menjelaskan
“Bagus, sekarang aku lihat pendapat mbak Fluent Rivani  yang mengatakan bahwa intrapreneur atau orang kerja dengan jiwa entrepreneur itu kreatif, otaknya penuh ide-ide yang unik memiliki kata kata dan ucapan yang selalu bersemangat dan punya aura positif. Melakukan kegiatan kegiatan positif yang menambah ilmu dan memperluas wawasan serta berani melakukan hal-hal yang baru. Nah bagaimana Eti pendapatmu...?” Tie juga bertanya ke Eti.
“Setuju sekali, bahasa kami sudah beda Tie, kami sudah ogah gossiping and go shopping lho, sekarang lebih senang belajar, diskusi dan lakukan yang kreatif. Buktinya Mey sekarang sudah seperti seorang guru saja wawasannya, jangan-jangan banyak guru yang kalah wawasan oleh beliau...” Eti menjawab dengan bersemangat.
“Sip, sip kalian memang pembelajar entrepreneurship yang hebat. Sekarang aku akan tunjukkan tulisan dari mbak Nina Riyadi menurut dia  intrapreneur bisa menjadikan masalah menjadi peluang, melakukan kreatifitas & inovasi untuk membuat pelanggan (majikan) tidak bisa bilang tidak, berusaha bekerja dengan cinta dari hati dan dapat menunjukan sikap ramah & gembira. Seorang Entrepreneur mulai dari diri sendiri lalu lingkungan kerja dan baru yang lainnya,... Hayo Mey bagaimana pendapatmu..”Sekarang Tie bertanya ke Mey.
“Yah ngga usah ditanya lagi deh. Itu lho Teki sudah mengubah masalah popo Wong jadi dompet ... he... he ... dan Eti juga menciptakan gagasan yang Mr.Lee tidak bisa bilang tidak bahkan sampai garuk-garuk kepala dan keluar HKD 500.. ha.. ha” Mey menjawab dengan canda.
Tie terseyum gembira melihat optimisme di wajah 3 BMI ini dan mendengar langsung cerita-cerita kisah nyata perjuangan dan keberhasilan mereka ber inovasi. Kemudian mereka semua secara bersama-sama membaca kalimat-kalimat dari teman-teman lain dari komunitas Mandiri Sahabatku yang juga memberikan inspirasi.
Sarang Chinta: Bertindak cepat dan tepat, bermimpi lebih tinggi dan merealisasikan impian nya menjadi kenyataan.. ruang dan waktu bukan penghalang...dan NEVER GIVE UP
Anna Blitar Mudah menemukan peluang dan  tidak mudah putus asa. Tidak takut menghadapi kegagalan
Cindy Ayu; Mempunyai jiwa yg kuat
Rose Rosida; Berjiwa pemenang berhasil memenangkan hati majikan sebagai pelanggan yg harus dilayani dengan baik. Sehingga majikan puas dengan kinerja dan tidak sanggup bilang tidak.
Amy Fadhilah Fadhilah Banyak mengeluarkan ide-ide baru, kreatif, berinovasi. tak mudah putus asa.
Neng Erna: Tidak melakukan hal sama berulang ulang bila ingin hasil yang berbeda.
Ayen Neya: Selalu berfikir dan bertindak dengan kreatif dan terus berinovasi untuk majikan.
Rizki Ramadhani : Menghargai WAKTU
Jocelyn Savanna : Berani melakukan perubahan baik pola pikir juga karakter. Bersikap jujur, disiplin dan tanggung jawab. Waktu luang digunakan untuk belajar
Listi Nia: Tidak fokus pada masalah tapi pada solusi dan berani menghadapi kegagalan.
“Wah hebat-hebat ya, pendapat teman-teman kalian. Aku membayangkan setiap kali bertemu dengan kalian auranya akan sangat positif ya. Aku dengar lho bahwa pak Riza Senior Vice President Bank Mandiri yang berkali-kali datang menengok kalian di Hong Kong mengatakan bahwa setiap kali ke Hong Kong serasa mendapat enersi yang positif, itu membuat dia selalu ingin kembali ke Hong Kong bertemu kalian semua. Yup kalian pertahankan ya suasana belajar yang saling memotivasi ini dengan terus berinovasi...”Tie mencoba membuat kesimpulan.
“Setuju, sip sip, sekarang bukan saatnya NATO lagi, No Action Talk Only...tapi selalu bergerak dan tidak takut jadi yang terdepan” Eti juga memberi semangat.
“Bank Mandiri, terdepan, terpercaya, tumbuh bersama anda yes.. yes.. yes... ha.. ha... ha...”Tiga sahabat ini bernostalgia suasana pelatihan Mandiri Sahabatku dengan penuh tawa.  
“Aku harap kalian semua sekarang sudah mengalami sebuah Sekolah Kehidupan yang menyenangkan sarat dengan makna dan berdampak terhadap diri maupun sesama, aku jadi ingin tahu sekarang sejauh mana kalian bisa membedakan Sekolah Kehidupan dengan sekolah biasa yang seperti kalian biasa kita lihat..., bagaimana pendapatmu Teki..?” Sekarang tampaknya Tie ingin mengetahui lebih jauh kualitas pembelajaran mereka.
“Hmm, kalau sekolah biasa ada jadwalnya yang tetap tapi Sekolah Kehidupan tidak berjadwal kapan saja kita bisa belajar, kalau sekolah biasa ada lokasinya dan gedungnya yang tetap tapi Sekolah Kehidupan dapat terjadi dimana saja, kalau sekolah biasa ada guru-guru yang ditunjuk namun kalau Sekolah Kehidupan siapa saja bisa jadi guru......daaaaan ada satu yang sangat penting yaitu di sekolah biasa kita mengeluarkan biaya tapi di Sekolah Kehidupan kita malah bisa dapat uang.... betulkan Eti dan Mey,... ha...ha...ha” Demikian Teki yang suka nabung dan berhemat berpendapat. Tie yang mendengar dengan seksama hanya manggut-manggut dengan hati bangga.
Sekarang teh Eti yang dulu biasanya hanya banyak diam dan seyum-seyum saja mulai berpendapat:
“Kalau untuk aku perbedaan terbesar terletak pada siapa yang jadi pengelola kegiatan belajar. Di sekolah biasa guru memegang peran besar dalam menentukan apa yang dipelajari dan bagaimana kita belajar tapi di Sekolah Kehidupan kita sendiri yang berinisiatif dan mengatur pembelajaran kita. Kesimpulannya..... orang yang tak pernah melakukan inisiatif baru, mencoba berinovasi atau melakukan perubahan dalam hidupnya adalah mereka yang tidak pernah jadi murid Sekolah Kehidupan...”
“Bagus, bagus, sangat menarik....” Teki memberi semangat
Mey yang sembari menyimak namun terus berpikir kemudian membagikan perenungannya:”Sekolah biasa ijazahnya adalah kertas atau piagam yang bisa saja hilang atau terbakar dan belum tentu bisa menjamin masa depan kita tapi Sekolah Kehidupan ijazahnya ada dalam hati kita, ada dalam batin kita, berupa mutiara-mutiara kehidupan yang sangat berharga. Ijazah Sekolah Kehidupan adalah kumpulan dari pengalaman kehidupan yang kaya makna karena dengan sengaja kita mewarnai  kehidupan dengan inisiatif, inovasi dan intropeksi atau refleksi terus menerus. Ijazah Sekolah Kehidupan adalah ketika kita dapat membuktikan kepada diri sendiri, kepada keluarga dan kepada masyarakat bahwa bisa lulus dari STM  atau Sanggup Tidak Miskin, lulus dari SMU atau Sanggup Mencari Uang dan bila semakin tinggi dapat jadi lulusan PT atau punya Perseroan Terbatas...”
“Luar biasa, aku sangat bergembira dan aku percaya kalau kita teruskan waktu diskusi kita maka akan banyak lagi mutiara kehidupan yang kalian temukan sepanjang perjalanan menempuh jalan entrepreneur ini...”Demikian Tie berkata sambil tersenyum bangga kepada seluruh anggota Grup 3 E.
Malam kemudian menyergap Victoria Park perlahan namun pasti ketiga sahabat bersama Tie beranjak pulang ke rumah masing-masing. Sebelum mereka akhirnya berpisah tiba-tiba Mey mengajukan pertanyaan mengejutkan kepada Tie:”Ngomong-ngomong apa sih yang membuatmu selalu ingin menginspirasi, memotivasi dan melatih kami untuk sanggup jadi entrepreneur Tie...? Tie menghentikan langkah, memandang jauh ke depan menyapu seluruh Victoria Park, kemudian menundukkan kepalanya ke bawah seakan berpikir sangat dalam kemudian dengan kalimat perlahan ia mengatakan:
“Akan cukup panjang kalau aku ceritakan, namun secara singkat Victoria Park lah yang membuat aku dan teman-temanku ingin berada bersama kalian membangun masa depan kalian...”
“Koq Victoria Park...?”Teki bertanya.
“Ada apa dengan taman ini...?” Eti juga bertanya
“Besok aku akan inbox sebuah puisi ke masing-masing kalian, disana kalian akan menemukan alasan-alasannya......”Demikian Tie menjawab pertanyaaan mereka.
(Bersambung) – Besok akan menjadi bagian akhir dari cerita Sekolah Kehidupan untuk tema INTRAPRENEURSHIP 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar